Home / Artikel / Orang Pintar Dukung Nikah Muda

Orang Pintar Dukung Nikah Muda

Nikah muda
Source: Google Images

Para pendukung nikah muda itu sudah pasti orang-orang pintar. Sebab mereka pintar menyembunyikan banyak hal seputar pernikahan yang belum diketahui para lajang. Mereka giring ajakan nikah muda dengan dalil-dalil surga. Kemudian mengglorifikasi segala permasalahan di masa lajang bisa terselesaikan dengan cara menikah.

Ditambah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur usia minimal menikah bagi perempuan, 16 tahun. Sedangkan bagi pria, 19 tahun. Tentu peraturan tersebut selalu dijadikan senjata oleh para juru kampanye nikah muda. Sudah saatnya undang-undang tersebut direvisi, biar motivasi orang hidup itu enggak hanya menikah.

Jauh sebelum ramai ajakan nikah muda, sebenarnya dari dulu orang sudah banyak yang nekat nikah muda, meski belum berpenghasilan. Hanya saja sekarang lebih masif karena ada media sosial. Dulu menikah ketika masih di usia belia memang dianggap wajar, mungkin karena sudah mentok tidak ada kerjaan. Ada juga kemungkinan terpaksa karena dijodohkan oleh orang tua. Jadi seharusnya hal ini jangan dibawa-bawa di masa sekarang.

Apabila tidak ada orang berkampanye nikah muda pun masih banyak muda-mudi yang terobsesi untuk segera menikah. Hal ini seharusnya yang perlu diantisipasi. Edukasi seputar pernikahan itu penting. Tidak hanya menikah lalu beranak pinak, lalu cekcok sedikit berujung cerai. Kematangan mental dan finansial tetap harus dikedepankan. Tapi mereka banyak yang keras kepala, membalasnya dengan dalil bahwa Tuhan akan memberikan jalan rezeki bagi hambanya yang menikah dilandasi ibadah.

Tapi memang perlu disadari, para juru kampanye nikah muda kebanyakan penganut agama Islam. Pun masih menganggap perempuan sebagai obyek dan selalu mengamini budaya patriarki. Apa sebenarnya target juru kampanye nikah muda?. Kok selalu ngotot memperjuangkannya.

Apabila memang tidak setuju dengan konsep pacaran yang dianggap berzina, mengapa solusinya menikah?. Kan bisa saja mengajak memperkuat iman dan mendewasakan mental. Kalau sudah dirasa cukup, barulah mencari calon pendamping dengan cara taaruf. Muak sekali lihat tingkah kalian. Memang sih kalau tidak suka tidak perlu digubris. Tapi miris ketika masih banyak anak-anak muda yang tergiring langkahnya gara-gara kampanye kalian.

Menikah memang urusan masing-masing personal, tapi dengan menghubung-hubungkan solusi dari setiap masalah adalah menikah itu hal yang konyol. Sama halnya dengan memaksakan logika bahwa secara naluri para pria pasti mencintai lebih dari satu perempuan. Jadi daripada selingkuh atau seks bebas, solusinya ialah berpoligami. Ahh memang paling pintar deh kalian kalau berlogika.

Belum lagi prilaku apriori para juru kampanye itu yang meyakini khawatir apabila tidak segera beranak pinak, bisa-bisa keturunan muslim akan habis. Sehingga tak sedikit dari mereka yang juga tidak setuju dengan program keluarga berencana karena hanya membatasi jumlah kelahiran keturunan muslim. Ya sudahlah, mereka memang selalu memaksakan logikanya demi justifikasi atas dogma-dogma yang menyelimutinya.

Apabila kalian sukses menikah muda, jangan hanya ceritakan hal-hal baiknya saja. Lalu mengagungkan pahala-pahala yang didapatkan ketika sudah menjadi suami istri. Padahal poin terpenting dalam menikah ialah keharmonisan yang bisa didapat dengan kematangan mental yang sudah saya sebutkan di awal-awal paragraf. Bagi saya penting ketika pasangan suami istri sudah menikah dan memutuskan ingin memiliki buah hati perlu adanya tes kejiwaan dan taraf ekonomi. Karena riskan bagi calon buah hati apabila nantinya malah mengalami kekerasan atau ditelantarkan.

Karena setahu saya, tes kejiwaan diberlakukan bagi para calon orang tua asuh yang akan mengadopsi anak. Bahkan tak hanya tes kejiwaan saja, namun banyak persyaratannya yang harus dipenuhi oleh para calon orang tua asuh. Sebab, harapannya anak yang diadopsi kelak hidup bahagia dan aman bersama keluarga barunya tersebut. Jadi, seharusnya bisa juga diterapkan bagi pasangan suami istri yang berani nikah muda lalu melahirkan anak.

Di samping itu juga, pemerintah memang masih abai dengan isu-isu semacam ini. Tipikal pemerintah selalu menunggu ada kasus besar yang begitu menyedot banyak perhatian dulu baru merupakan peraturan. Meskipun pemerintah sudah memberlakukan program konseling bagi para calon pengantin, tapi hal itu hanya bekal saja. Tidak bisa diukur sejauh mana kesehatan mental para calon pengantin.

Tulisan ini juga akan berisiko menerima banyak kritikan dari para juru kampanye nikah muda. Karena dianggap melarang-larang serta mengatur orang lain yang hendak membangun mahligai rumah tangga. Alasan saya jelas, menikah bukan perkara sepele ijab kabul di hadapan penghulu. Namun kompleksitas dalam menikah juga penting untuk didiskusikan bersama.

Masih banyak hal yang perlu dieksplorasi sekaligus menambah wawasan. Saya pun tidak suka dengan konsep pacaran sekaligus nikah muda. Jadi, ayolah berpikir lebih luas lagi, jangan hanya mikirin syahwat saja. Katanya kelak akan disediakan 72 bidadari di surga?. Lantas mengapa selalu sibuk mengurus syahwat di dunia yang jelas-jelas fana.

Saya juga tidak ingin potret muslim di Indonesia hanya berorientasi pada syahwat. Masih banyak masalah krusial yang butuh banyak buah pemikiran dari kaum muslim itu sendiri. Jangan hanya cari dalil hadist atau alquran sebagai landasan pembenaran kalian.

Tabik.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

poligami

Rayakan Kebodohan Bersama Juru Kampanye Poligami

Semakin gencar kalian mengkampanyekan poligami, semakin terlihat pula kebodohan kalian. Tak hanya bodoh saja, kalian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *