Home / Artikel / Hidup Susah Suka Ngeluh, Hidup Enak Suka Lupa

Hidup Susah Suka Ngeluh, Hidup Enak Suka Lupa

hidup susah
Source: Google Images

Saat hidup susah suka ngeluh, hidup enak suka lupa. Keduanya sama-sama punya dampak buruk apabila tak bisa mengontrolnya.

ENTAH bagaimana sifat dasar manusia memang selalu berbuat kesalahan. Tak pernah puas, selalu tenggelam dalam rasa kekurangan. Lebih anehnya lagi, mereka yang mengaku percaya adanya entitas tuhan maha segalanya, masih saja kurang berserah diri.

Rasa mengeluh akan banyak muncul ketika perjalanan mengarungi usia 20-an tahun. Banyak tamparan realita kerap tak sesuai dengan ekspektasi. Sehingga, titik terpenting ialah senantiasa menghapus kenangan masa lalu dan terus melangkah ke depan. Jangan ragu untuk ‘mencoba lagi’.

Karena setiap jengkal hidup ini sudah seharusnya disyukuri. Tak perlu mengkomparasi dengan orang lain yang lebih susah dari kita ketika ingin bersyukur. Sebab bersyukur seharusnya penuh dengan ketulusan. Bukan berdasarkan adanya orang lain yang lebih susah dari kita. Sebuah cara bersyukur yang licik. Introspeksi diri namun menggunakan kesengsaraan orang lain.

Miskin atau Kaya Hanya Soal Waktu

Ketika hidup dalam kondisi miskin, bukan giat bekerja malah suka ngeluh. Ketika kaya raya malah lupa bersedekah, hobinya suka lupa. Keduanya sama-sama punya dampak buruk apabila tak bisa mengontrolnya. Padahal seharusnya si kaya atau miskin memang tiada beda. Apabila tak bisa mengontrolnya, keduanya hanyalah cobaan bagi yang tak memahami hidup di dunia ini.

Memang, tak semua orang ingin miskin. Tapi poin pentingnya ialah hidup harus selalu diliputi usaha keras dan tak pernah melupakan perjuangan yang berhasil diraih. Dan jangan lupa bertenggang rasa dengan sesama. Karena kelas sosial hanyalah tampilan semu. Hidup paling enak ya berbaur satu sama lain. Tidak membeda-bedakan.

Jangan Licik Ketika Bersyukur

Malas rasanya mendengar petuah dari kebanyakan orang yang kerap menyuruh bersyukur dengan cara disuruh melihat orang lain yang lebih susah. Logika macam apa itu? Menari-nari di atas kesedihan orang lain. Bersyukur itu harus tulus dalam hati. Mengaku sebagai diri yang lemah di hadapan tuhan. Mengaku salah karena lupa bersyukur atas nikmat yang diberikan. Jadi, rasa syukur itu dihayati dengan khidmat. Tanpa embel-embel lainnya.

Bahkan, ketika kita menghadapi kegagalan sebisa mungkin bersyukur. Karena kita percaya hasil baik dan buruh atas seizin tuhan. Percuma apabila kalian sibuk marah atau bahkan menyalahkan tuhan akibat kegagalan itu. Justru kalau kita bisa bersyukur di kala gagal, itulah rasa syukur yang murni dari hati. Semuanya berserah diri kepada tuhan.

Menolong Sesama Tumbuhkan Rasa Bahagia

Menolong sesama tentu tak butuh bertanya golongan, agama, suku, maupun rasnya. Tolong ya tolong saja. Kalau perlu menolong yang memang hak dan ruang geraknya lebih sedikit dari kita. Jadi, bisa dibilang mereka yang minoritas memang layak untuk ditolong. Karena kita tahu semua, mana mungkin pahlawan membela mayoritas?.

Menolong pun butuh belajar, lalu proses belajar itu lama kelamaan menjadi budaya. Jadi wajar ketika pertama kali menolong orang lain rasanya ada kebanggaan tersendiri. Lalu makin lama menolong, rasanya sudah seperti biasa tidak ada yang istimewa. Doa-doa dari orang yang kita tolong juga bisa menyelimuti diri kita dengan penuh kebahagiaan. Makin banyak menolong, kelak ketika kita sedang kesusahan pasti juga akan datang pertolongan. Tak perlu banyak berharap. Tapi hukum kausalitas selalu berkerja. Tenang.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

segitiga

Memaknai Segitiga Tak Sependek Akalmu

Source: Google Images Ketika melihat sebuah segitiga? Apa yang kamu lihat? Segitiga pengaman? Simbol illuminati? …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *