Home / Travel / Merayakan Sewindu Kebangkitan Warga Lereng Gunung Merapi

Merayakan Sewindu Kebangkitan Warga Lereng Gunung Merapi

lereng gunung merapi
Source: @aninmaru

Namun, warga sekitar tak mau terus larut dalam kesedihan. Sewindu setelah bencana alam dahsyat tersebut, kawasan lereng Gunung Merapi mampu menjelma menjadi objek wisata yang sangat variatif.

Suasana mencekam masih sangat terasa ketika kaki mulai diinjakkan di Petilasan Mbah Maridjan, di desa Cangkringan, Sleman, Jogjakarta. Puing-puing bekas erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 lalu masih berjejer rapi di tempat yang dulunya menjadi kediaman sang juru kunci tersebut.

Erupsi yang terjadi 8 tahun silam tak hanya memporak-porandakan bangunan sekitar lereng gunung, tapi juga merenggut ratusan korban. Termasuk sang juru kunci Gunung Merapi sendiri, Mbah Maridjan.

Beberapa perabotan yang diserbu oleh abu vulkanik pada tahun 2010 lalu masih nampak jelas di petilasan Mbah Maridjan. Abu vulkanik terlihat menempel di beberapa perabotan rumah tangga. Bahkan, mobil yang dipakai oleh salah satu jurnalis untuk mengevakuasi sang juru kunci masih teronggok begitu saja di sana.

Duka yang dirasakan oleh warga lereng Gunung Merapi memang sangat memilukan. Namun, warga sekitar tak mau terus larut dalam kesedihan. Sewindu setelah bencana alam dahsyat tersebut, kawasan lereng Gunung Merapi mampu menjelma menjadi objek wisata yang sangat variatif.

Salah seorang perangkat Desa Umbulharjo, Cahyo Nugroho menuturkan jika erupsi Merapi pada tahun 2010 memberikan perubahan besar terhadap kehidupan warga sekitar. Ketika lahan pertanian hancur, warga yang dulunya adalah petani mulai mengubah pemikirannya.

“Perbedaan sangat mencolok ketika sebelum dan sesudah erupsi Gunung Merapi. Dulu mayoritas bekerja di bidang pertanian. Sekarang sudah merambah bidang jasa dan pariwisata,” ujar Cahyo Nugroho.

Pak Kasno adalah satu dari sekian banyak dari warga sekitar lereng Gunung Merapi yang berhasil bangkit dari duka dan kesedihan.

Delapan tahun lalu, rumah dan kebunnya habis diterjang oleh awan panas yang biasa disebut dengan Wedhus Gembel. Erupsi Gunung Merapi membuat Pak Kasno dan keluarganya harus memulai dari titik nol lagi.

Lewat kegigihan serta upaya tak kenal lelah, Pak Kasno beserta keluarganya berhasil bangkit dan mampu mengembangkan budidaya tanaman kopi di kebun miliknya yang punya luas setengah hektar. Tak hanya menanam saja, Pak Kasno juga mengolah sendiri biji kopi di kebunnya untuk kemudian diolah menjadi bubuk kopi yang bernilai jual tinggi.

Sudah tak terhitung lagi berapa banyak lidah wisatawan yang berhasil dimanjakan oleh kenikmatan kopi khas Merapi Pak Kasno.

Hal lain yang menonjol saat ini adalah kondisi pariwisata di sekitar lereng Gunung Merapi. Hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang sudah menjadi pemandangan yang biasa saat ini. Tempat-tempat yang dulunya hancur akibat erupsi Merapi kini mampu menjelma sebagai destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi.

Wisata tour dengan mobil Jeep banyak diminati oleh para wisatawan. Dengan mobil Jeep tersebut, kita bisa mendatangi berbagai tempat menarik seperti Bunker Kaliadem, Museum Sisa Hartaku dan tentu saja Petilasan Mbah Maridjan.

Para pengemudi mobil Jeep tour tersebut adalah warga lereng Gunung Merapi yang turut menjadi korban pada erupsi tahun 2010 lalu.

Destinasi unik lain yang dikembangkan oleh warga sekitar lereng Gunung Merapi adalah desa wisata. Lokasinya berada di desa Pentingsari. Di kawasan ini ada 59 rumah yang siap dihuni oleh para wisatawan. Istilah kerennya adalah live in.

Pada erupsi tahun 2010, desa Pentingsari diserang oleh abu vulkanik yang membuat seluruh warganya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Setelah situasi kondusif, warga Pentingsari mencoba membenahi berbagai macam hal. Khususnya bagaimana menggerakkan roda perekonomian usai erupsi yang melanda tempat mereka.

Desa wisata menjadi pilihan warga Pentingsari. Suasana yang sejuk dan tenang menjadi suguhan utama di tempat ini. Rumah warga kemudian disulap menjadi homestay yang layak huni.

Salah satu orang yang yang turut serta dalam konsep desa wisata ini adalah Rajim. Dampak signifikan dalam hal ekonomi langsung dirasakan oleh bapak berusia 61 tahun ini setelah membuat rumahnya menjadi homestay untuk para wisatawan.

“Konsep desa wisata ini memang sangat membantu perekonomian warga desa Pentingsari. Banyak wisatawan yang datang untuk belajar kebudayaan. Terutama anak-anak kecil,” ujar Pak Rajim dengan penuh semangat.

Banyak wisatawan dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang datang untuk live in di Pentingsari. Udara segar khas lereng pegunungan ditambah dengan keramahan orang Jogja yang istimewa, membuat desa Pentingsari ini jadi jujukan favorit wisatawan dari kota Metropolitan.

Suasana mencekam kini beralih menjadi tawa riang. Kesedihan akibat erupsi Guung Merapi mampu diolah menjadi semangat kebangkitan yang berapi-api. Hasilnya adalah wajah baru lereng Gunung Merapi yang tak cuna menawan, tapi juga indah mempesona.

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *