Home / Romansa / 6 Poin Penting dalam Pendewasaan Diri Menyambut Pernikahan

6 Poin Penting dalam Pendewasaan Diri Menyambut Pernikahan

menyambut pernikahan
Source: Google Images

Ketika kamu sudah memasuki masa untuk menyambut pernikahan. Setidaknya penting bagimu untuk benar-benar mempersiapkan diri menjadi insan yang lebih dewasa. Karena pernikahan tidak bisa dianggap sebagai perkara sepele.

Sebelum ini saya sudah menulis tentang tiga cara untuk menikmati status jomblo seutuhnya. Namun, tak dapa dipungkiri mengubah status jomblo memang tidak mudah. Sebelum mengubah status kamu, diperlukan mengubah diri kamu sendiri dari dalam, entah itu cara berpikir, berbicara atau bersikap. Perubahan itu tentu untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Kita harus melalui dan menjalani proses pendewasaan dalam hidup.

Banyak kan orang yang mengeluh karena jomblo dan kesepian. Padahal, banyak sekali di antara mereka yang tidak tahu bahwa menikah itu lebih susah dari yang dibayangkan. Galaunya seorang jomblo tidak ada apa-apanya dibandingkan galaunya mereka yang sudah menikah. Jika masih berpikir dan mengeluhkan soal jomblo, bagaimana saat kamu menikah nantinya?

Kedewasaan adalah sebuah proses yang susah dan perlu direnungkan. Tak hanya sekali, mungkin butuh berkali-kali direnungkan. Ada 6 poin penting untuk memahami kedewasaan terkait dengan status jomblo dan menikah.

1. Harus mampu mengenali diri sendiri

Mengapa harus mengenali diri sendiri? Kita perlu untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Menerima kekurangan dan mensyukuri kelebihan yang dimiliki merupakan hal yang perlu dilakukan pertama. Dari itu, kita harus bias mengekspresikannya dengan baik secara alami. Hal itu akan menarik orang lain yang cocok dan menjauhkan orang yang tidak cocok. Tidak mungkin kita bisa menyenangkan dan diterima oleh semua orang. Jika kita berekspresi secara alami, alam akan menyeleksi orang-orang yang cocok berada di sekitar kita.

2. Mencari hubungan yang dapat membuat kita lebih bahagia

Kuncinya adalah kita harus merasa bahagia dengan bangga terhadap diri sendiri. Dengan kebanggaan itu kita mengangkat harga diri sendiri. Dengan harga diri yang tinggi, itu berarti kita mendapat pengakuan dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Jika kita tidak bangga terhadap diri sendiri, maka konsekuensinya berarti kita menggantungkan harga diri kita dari pengakuan dan kebanggaan orang lain. Jika kita mampu membahagiakan diri sendiri, maka carilah hubungan yang bisa membuat kita lebih bahagia lagi dengan orang lain.

3. Perhatikan dan cermati lingkungan kita saat ini

Lingkungan keluarga pasti mempunyai ekspektasi terhadap diri kamu. Baik itu soal prestasi, pekerjaan, pernikahan atau hal lainnya. Pernikahan bukanlah hubungan antar dua orang saja, melainkan hubungan antar keluarga. Ketika kita menjalani hubungan sebelum ke jenjang pernikahan, pahami dahulu lingkungan keluarga. Berikan penilaian tersendiri mengenai seberapa kuat atau tidaknya hubungan dengan pasangan untuk diperjuangkan. Hal ini perlu agar kenyataan yang dihadapi masih bisa diterima berdasar ekspektasi-ekspektasi yang ada di lingkungan keluarga itu.

4. Harus disadari bahwa pernikahan adalah hubungan yang sangat panjang

Pernikahan adalah hubungan yang berbeda dengan pacaran. Belum tentu juga akan seindah berpacaran atau yang dibayangkan. Hubungan pernikahan butuh bahan bakar dan roda penggerak. Bahan bakarnya adalah visi-misi dan tujuan yang sama. Selain itu, kecocokan atau chemistry yang terbangun. Dari adanya tujuan yang sama dan chemistry sebagai bahan bakar, percikan api bahan bakar adalah ketertarikan satu sama lain. Bisa karena fisik atau hal lainnya. Meskipun hal itu subyektif, tapi itu menjadikan energi positif di dalam pernikahan.

5. Jadilah teman curhat dari orang-orang di sekitar

Curhat adalah institusi pendidikan non-formal. Menjadi teman curhat merupakan proses pembelajaran yang baik bagi kita. Dengarlah mereka dan perhatikan pengalamannya. Jangan coba menginterupsi dan memberi nasihat jika memang tidak diperlukan. Cukup dengarkan saja dan temani berpikir. Sebenarnya, orang curhat hanya perlu didengarkan saja dan tidak bertanya soal solusi. Kecuali kamu membantu sebagai solusi, tidak hanya memberi solusi. Pengalaman adalah guru yang baik. Tidak harus berdasarkan pengalaman sendiri, tapi orang lain juga.

6. Mengetahui dan memahami konsep “Apa itu CINTA?”

Isi dari pernikahan sebenarnya adalah dua orang yang memiliki tujuan yang sama dan chemistry yang bisa terbangun di antara keduanya. Cinta itu hanyalah bumbu penyedap untuk mewarnai rasa pernikahan itu. Tapi, apakah sebenarnya cinta itu? Masa sih hanya sekadar bumbu penyedap dalam hubungan? Bukankah cinta adalah segalanya yang dibutuhkan dalam hubungan?

Cinta adalah suatu energi spiritual yang melampaui dimensi ruang dan waktu manusia. Cinta adalah bahasa tuhan yang sulit dijelaskan dan diinterpretasikan. Hanya mampu dijelaskan singkat dengan istilah “hati” atau “perasaan” yang kita sendiri susah menjelaskan rasa. Yang kita tahu selama ini soal cinta itu kan begitu acak.

Cinta di alam spiritual yang dimensinya lebih tinggi mengikuti suatu pola dari rotasi hukum alam yang bersifat sangat universal. Pernahkah bertanya dalam agama segala hal ujung-ujungnya menyembah dan mencintai tuhan? Kita selalu didorong dan diajarkan untuk mencintai tuhan. Apakah mungkin hanya cinta satu-satunya bahasa yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan tuhan?

Di dalam hubungan yang terlihat atau terasa begitu romantis, di dalamnya terdapat cinta sebagai pengikat kebahagiaannya. Dari kebahagiaan itu mereka pancarkan suatu energi positif yang apabila kita menerimanya kita merasa bahagia juga. Seperti itulah cinta jika dikatakan dalam konteks kehidupan rumah tangga.

Komentar

About Bakti Suryo

Pengembara spiritual

Check Also

mantan

Mantan, Lupakan atau Jadikan Teman?

Sebuah penelitian yang diterbitkan  oleh jurnalrisa mengungkapkan bahwa seseorang yang berteman dengan mantan pacar berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *