Home / Artikel / 5 Kasus HAM yang Masih Terbengkalai

5 Kasus HAM yang Masih Terbengkalai

kasus HAM
Source: Google Images

BICARA hak asasi manusia (HAM) memang masih jauh dari kata ideal. Bahkan, setiap lima tahun sekali kasus HAM itu hanya dijadikan bahan berkampanye untuk meraup suara. Tapi ketika terpilih, taka da penyelesaian. Dalihnya karena tidak ada fakta baru. Aktor utama setiap kasus HAM yang terjadi di Indonesia selalu saja lolos. Miris melihat negara yang tidak berintegritas menjaga setiap nyawa warganya.

Dalam rangka memeringati hari HAM sedunia setiap 10 Desember. Kami ingin berbagi kepada kalian berupa kasus HAM yang masih terbengkalai. Nasibnya tidak jelas, karena pemimpinnya tak tegas. Siapapun presidennya, baik dari sipill maupun militer hasilnya juga sama. Seolah-olah tahu sama tahu, jadi lebih baik diam saja. Lebih baik elus-elus masyarakat dengan pesatnya pembangunan infrastruktur. Setidaknya, kalau  mau marah ditunda dulu, karena merasakan enaknya infrastruktur.

1. Kasus Tragedi 1965-1966

Sejumlah jenderal dibunuh dalam peristiwa 30 September 1965 silam. Rezim orde baru (orba) menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) dalang dari itu semua. Lalu pemerintahan saat itu membubarkan organisasi tersebut, dan melakukan razia yang cenderung seperti genosida terhadap simpatisannya.

Razia itu dikenal dengan operasi pembersihan PKI. Komnas HAM memperkirakan 500.000 hingga 3 juta warga tewas dibunuh saat itu. Ribuan lainnya diasingkan, dan jutaan orang lainnya harus hidup di bawah bayang-bayang ‘cap PKI’ selama bertahun-tahun.

Dalam peristiwa ini, Komnas HAM balik menuding Komando Operasi Pemulihan Kemanan dan semua panglima militer daerah yang menjabat saat itu sebagai pihak yang paling bertanggung-jawab. Saat ini, kasus ini masih ditangani oleh Kejaksaan Agung. Namun penanganannya lamban. Tahun 2013 lalu, Kejaksaan mengembalikan berkas ke Komnas HAM, dengan alasan data kurang lengkap.

2. Kasus Penembakan Misterius (Petrus) 1982-1985

Presiden era orde baru saking khawatirnya dengan stabilitas negara, ia membersihkan kejahatan tanpa melalu peradilan. Ia menyuruh penembak misterius untuk membunuh para preman atau bromocorah. Ia kerap melabeli para preman itu gali (gerombolan anak liar).

Sebanyak 532 orang tewas pada tahun 1983. Dari jumlah itu, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Kemudian pada tahun 1984, tercatat 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Setahun kemudian, pada 1985, tercatat 74 orang tewas, 28 di an­taranya tewas ditembak.

Operasi ini secara umum meliputi operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat, khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas, tak pernah tertangkap, dan tak pernah diadili.

‘Korban ‘Tembakan Misterius’ ini selalu ditemukan dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Sebagian besar korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, atau dibuang ke sungai, laut, hutan, dan kebun.’

3. Kasus Marsihan tahun 1993

Marsinah merupakan buruh wanita asal Nganjuk yang dibunuh tahun 1993 sila. Dia tewas mengenaskan dengan kemaluan ditembak. Marsinah memimpin aksi pekerja PT Catur Putra Surya (Sidoarjo) untuk mendapatkan kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari. Bahkan, hingga hari ini KontraS menyebut kematian Marsinah masih menjadi teka teki.

Pada 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.

Hasil visum et repertum (VER) menunjukkan adanya luka robek tak teratur sepanjang 3 cm dalam tubuh Marsinah. Luka itu menjalar mulai dari dinding kiri lubang kemaluan (labium minora) sampai ke dalam rongga perut. Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya memar. Rongga perutnya mengalami pendarahan kurang lebih satu liter.

Setelah dimakamkan, tubuh Marsinah diotopsi kembali. Visum kedua dilakukan tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Menurut hasil visum, tulang panggul bagian depan hancur. Tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping. Tulang kemaluan kanan patah. Tulang usus kanan patah sampai terpisah. Tulang selangkangan kanan patah seluruhnya. Labia minora kiri robek dan ada serpihan tulang. Ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 sentimeter. Juga pendarahan di dalam rongga perut.

4. Tragedi Kerusuhan Mei 1998

Pada 13-15 Mei 1998, terjadi kerusuhan masif yang terjadi hampir di seluruh sudut tanah air. Puncaknya di Ibu Kota Jakarta. Kerusuhan ini diawali oleh kondisi krisis finansial Asia yang makin memburuk. Serta dipicu oleh tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti yang tertembak dalam demonstrasi pada 12 Mei 1998.

Sepuluh tahun sebelumnya, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), yang dibentuk Habibie, mencatat ada 85 kasus pemerkosaan, 52 di antaranya pemerkosaan massal. Angka ini lebih kecil ketimbang temuan Tim Relawan untuk Kekerasan pada Perempuan, yang menyebut terjadi 152 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual. Dari jumlah itu, 20 korban akhirnya meninggal dunia.

Tindakan biadab itu terjadi di kawasan Jakarta Barat, antara lain di Angke, Jelambar; Jembatan Dua, Tiga, dan Lima; Jembatan Besi; Cengkareng; Glodok; dan Kota. Juga di Jakarta Utara (Pluit, Pantai Indah Kapuk, dan Sunter). Para korban umumnya kaum perempuan keturunan Tionghoa.

Sekalipun demikian, temuan lapangan itu rupanya masih dinilai belum cukup. Ranah hukum cenderung berbelit karena punya logika dan prosedur tersendiri yang rigid. Boleh jadi, bagi kebanyakan orang awam serasa tak punya empati kepada korban dan keluarganya.

5. Kasus pembunuhan Munir Said Thalib

Seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) asal Kota Batu yang dibunuh di pesawat ketika perjalanan dari Jakarta ke Belanda pada 7 September 2004 silam. Munir Said Thalib sangat berjasa bagi mereka yang termarjinalkan. Karena Munir selalu membela keadilan. Ia selalu mengawal kasus-kasus HAM dengan segala konsekuensi yang akan ia dapatkan.

Hingga saat ini memang kasus kematian Munir belum menemui titik terang. Pengadilan memang telah menjatuhkan vonis 14 tahun terhadap Pollycarpus Budihari Priyanto yang disebut sebagai pelaku pembunuhan.

Mantan Deputi V BIN Muchdi Prawiro Pranjono pernah menjadi terdakwa dan diadili. Namun, hakim kemudian membebaskan Muchdi karena dianggap tak terbukti terlibat menempatkan Pollycarpus dalam penerbangan itu. Empat belas tahun berlalu sejak pembunuhan Munir. Pollycarpus juga telah menghirup udara bebas. Meski begitu, kenangan terhadap Munir tak akan memudar.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

lembaga anti korupsi

Sebelum KPK, Ada 8 Lembaga Anti Korupsi

JATUH bangun lembaga anti korupsi didirikan sejak 1959. Beberapa pejabat tinggi aparatur negara kerap terseret …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *