Home / Artikel / Adnan Buyung Nasution, Pejuang HAM dari Berbagai Era

Adnan Buyung Nasution, Pejuang HAM dari Berbagai Era

adnan buyung nasution
Source: Google Images

Sosok almarhum Adnan Buyung Nasution tak bisa dilepaskan dari sejarah hak asasi manusia di Indonesia. Pria yang identik dengan rambut putihnya tersebut merupakan pengacara kondang yang sering membantu kaum tertindas. Ia juga punya peran besar dalam pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Indonesia.

Sosok Marsinah atau Munir selalu disebut ketika membicarakan masalah hak asasi manusia di Indonesia. Namun ada sosok yang kadang terlupa. Dia adalah Adnan Buyung Nasition. Pengacara handal yang punya nama besar dalam berbagai hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia.

Saya pribadi selalu mengidentikan sosok Adnan Buyung Nasution dengan era Reformasi. Pasalnya, pengacara kelahiran 1934 ini sering muncul di layak kaca ketika Indonesia memasuki masa transisi dari orde baru ke era reformasi. DIa menjadi salah satu sosok yang paling vokal untuk meminta Soeharto turun dari kursi Presiden.

Adnan Buyung Nasution punya sebuah privilege yang tak banyak dimiliki oleh orang. Dia merasakan masa pemerintahan dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno hingga Presiden ketujuh, Joko Widodo.

Saat Indonesia masih dipimpin oleh Soekarno, Adnan Buyung sudah terjun ke pemerintahan. Dia sudah menjadi Kepala Humas di Kejaksaan Agung. Selain itu, lulusan SMP Negeri 1 Yogyakarta tersebut juga pernah menjadi anggota DPRS/MPRS dar 1966 hingga 1968.

Memasuki transisi dari orde lama ke orde baru, Adnan membuat langkah besar dalam sejarah hukum di Indonesia. Ia turut berperan dalam pendirian Lembaga Bantuan Hukum pada 1970. Tujuan dari lembaga yang kemudian berubah menjadi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ini adalah memberikan bantuan pendampingan hukum kepada kaum tertindas.

Adnan pernah menduduki puncak pimpinan YLBHI pada 1981 hingga 1983. Pergerakan Adnan Buyung dengan YLBHI sampai bikin Presiden Indonesia saat itu, Soeharto terganggu. Adnan sampai harus dilarikan ke luar negeri akibat ancaman yang didapatkan dari Pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto.

Di kesempatan lain, Adnan pernah bertemu dengan Presiden Soeharto untuk membicarakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Pertemua yang membuat SOeharto sangat murka. Sampai muncul kutipan di surat kabar dari Soeharto yang berbunyi “Kalau bukan Adnan, sudah saya tempeleng,”.

Namun ada sejumlah kontroversi dalam perjalanan karirnya. Beberapa aktivis HAM mengkritik Adnan habis-habisan ketika Ia memutuskan untuk menjadi pengacara dari polisi yang dituduh menembak mahasiswa Trisakti. Ia juga tercatat pernah menjadi pengacara terpidana kasus korupsi, Chaeril Wardana.

Namun alumni Universitas Gajah Mada itu punya argumen tersendiri. Sebagai pengacara, ia pantang menolak orang yang meminta bantuan hukum.

Pergerakan Adnan Buyung Nasution dalam membela kaum tertindas tentunya tak perlu diragukan lagi. Sejak 1969 hingga akhir hayatnya pada 2015, ia tak pernah lelah dalam memberikan bantuan hukum kepada kaum marjinal atau tertindas.

Bagi saya, sosok Adnan Buyung Nasution layak diapresiasi sebagai aktivis hak asasi manusia di Indonesia. Perjuangannya dalam membela kaum tertindas di tanah air akan terus dikenang. Apalagi dia mewariskan harta penting bagi dunia hukum di Indonesia; Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Check Also

lembaga anti korupsi

Sebelum KPK, Ada 8 Lembaga Anti Korupsi

JATUH bangun lembaga anti korupsi didirikan sejak 1959. Beberapa pejabat tinggi aparatur negara kerap terseret …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *