Home / Artikel / Rayakan Kebodohan Bersama Juru Kampanye Poligami

Rayakan Kebodohan Bersama Juru Kampanye Poligami

poligami
Source: Google Images

Semakin gencar kalian mengkampanyekan poligami, semakin terlihat pula kebodohan kalian. Tak hanya bodoh saja, kalian terlihat seperti manusia ngacengan pemuja selangkangan. Untuk urusan poligami saya memilih untuk agree to disagree. Saya tidak melarang kalian berpoligami, karena setiap argumen yang kalian kampanyekan tidak ada yang masuk akal. Sangat mudah mematahkan argumen-argumen kalian yang sangat dungu itu.

Para juru kampanye poligami rayakanlah kebodohan kalian sepuasnya. Saya di sini akan menyumbangkan senyum manis kepada kalian. Argumen dan logika macam apa yang kalian kampanyekan? Ujung-ujungnya juga masalah selangkangan. Katanya poligami untuk menghondari zina. Padahal kalau dasarnya punya iman yang kuat tentu tidak tergoda untuk berzina. Kenapa harus diselesaikan dengan cara poligami?. Kenapa harus cari perawan?. Rasanya mau jungkir balik dengan narasi-narasi seperti itu.

Lalu, mau bilang jumlah perempuan lebih banyak dibanding pria?. Kalau kalian masih pakai logika itu, terbukti kalau kalian itu bodoh dan tidak tertib nalar. Baca datanya BPS, jumlah pria lebih banyak dibanding perempuan. Jangan tularkan virus kebodohan kalian kepada masyarakat. Kalau pun jumlah perempuan lebih banyak, upaya poligami juga bukan menjadi pembenaran. Karena saya mengimani bahwa tuhan selalu menciptakan keseimbangan di dunia ini. Contohnya ya kalian itu terlahir bodoh, karena itu ada orang-orang yang tidak bodoh seperti kalian alias waras.

Islam yang saya tahu juga mengajarkan bahwa tidak ada lagi manusi yang adil seperti junjungan umat islam yakni baginda rasulullah Muhammad Saw. Rasulullah juga menikahi istri pertamanya Siti Khadijah yang merupakan janda. Lalu beliau menikah lagi setelah istri pertamanya itu meninggal. Selain itu, sebagian besar istri rasulullah merupakan janda tua atau budak. Tidak seperti kalian yang hobi berburu perawan dengan dalih menjalankan syariat poligami.

Mau bicara apalagi?. Masalah terkait secara naluriah pria itu mencintai lebih dari satu perempuan?. Penelitian mana itu yang kalian jadikan pembenaran?. Kesetiaan itu mutlak, kalau secara naluriah memang hobi selingkuh atau jajan berarti ada yang salah dengan hati dan otak kalian. Secara garis besar, kalian hanyalah gerombolan penyubur budaya patriarki. Lalu berlindung di balik dogma bahwa surga istri berasal dari restu suami.

Hal yang makin bikin saya terheran-heran ialah perempuan yang termakan doktrin tersebut. Bisa-bisanya rela diduakan hanya karena menginginkan surganya. Bukankah ketulusan beribadah itu tidak berlandaskan apapun?. Sebab segalanya hanya kuasa tuhan, umat hanya wajib untuk menyembah tuhan tanpa tendensi apapun. Kalau kalian beribadah hanya untuk dapat surga, kenapa kalian tidak sembah surga saja?.

Sulit memang mencari obat bagi kalian yang sudah terlanjur mabuk agama. Tapi tetap dikembalikan lagi kepada kalian yang menjalaninya. Jika kebodohan itu ternyata membuat lebih nyaman menjalani hidup, maka saya hanya memberikan tepuk tangan. Karena bagi saya, niat berpoligami masa kini belum pernah mewacanakan untuk mengentaskan kemiskinan. Narasinya masih seputar alat untuk menghindari perzinahan.

Tetapi saya juga mengetahui bahwa kampanye poligami juga mengharapkan agar keturunan umat muslim semakin banyak. Kalian tidak setuju dengan program keluarga berencana (KB) yang menurut kalian sangat merugikan umat muslim. Kalian merasa dibatasi memperbanyak keturunan muslim. Padahal ada banyak cara lain untuk memperbanyak jumlah umat muslim. Buktikan pada dunia kalau islam itu memang rahmatan lil alamin. Jangan coreng agamamu di hadapan umat agama lain dengan aneka kebodohan itu.

Kalian layaknya manusia yang melangkah mundur ke belakang. Di otak kalian masih beranggapan bahwa perempuan hanya mesin pembuat anak. Omong kosong apabila kalian merasa paling melindungi martabat perempuan. Omong kosong pula kalian perempuan yang ikhlas ketika diduakan. Lalu mengamini doktrin bahwa adil saat berpoligami itu berbicara kuantitas bukan kualitas. Bisa jadi, kalian hanyalah gerombolan perempuan masokis. Ketika hati kalian tersakiti, itu sudah termasuk kekerasan dalam rumah tangga.

Di akhir tulisan ini, saya ingin tegaskan bahwa poligami memang keputusan masing-masing pribadi. Kalau ada orang di dekat saya ada yang berpoligami itu urusan mereka. Saya hanya mempersalahkan kalau mereka itu mengkampanyekan poligami. Jadi, poligami ya poligami saja, tak perlu dikampanyekan.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

Bela Islam

Bela Islam, Demi Tegaknya Khilafah

MARI bergabung bersama barisan kami demi tegaknya ukhuwah islamiyah di bumi Indonesia. Jangan mudah tergiring …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *