Home / Artikel / BukaLapak Bukan Budak

BukaLapak Bukan Budak

bukalapak
Source: Google Images

Sebab, BukaLapak bisa menjadi bisnis unicorn tentu atas usahanya sendiri merintis selama 9 tahun. BukaLapak bukan budak.

RAMAINYA tagar #UninstallBukalapak tentu mengingatkan kembali ramainya tagar #UninstallTraveloka #BoikotSariRoti beberapa bulan lalu. Isu remeh temeh yang digoreng di tahun-tahun politik oleh dua kubu pendukung capres-cawapres 01 maupun 02. Namun, sayang sekali isu-isu penting sepeti reklamasi, tambang emas tumpang pitu, remisi pembunuh jurnalis, dan isu penting lainnya tak pernah dihiraukan. Glorifikasi pemboikotan dipakai hanya untuk menjustifikasi bahwa kelompok kubunya memberi dampak yang besar. Padahal enggak besar-besar banget, karena saya kira sudah banyak orang yang cerdas di Indonesia.

Secara kontekstual, twit CEO Bukalapak Achmad Zaky hanya terkesan multitafsir. Kemudian penyajian data yang ia comot dari Wikipedia itu tak begitu berbeda dengan data terakhir. Jadi, tak perlu dibesar-besarkan masalahnya. Buat apa mendewakan Jokowi karena telah mengendorse Bukalapak dan baru-baru ini juga mengendorse HijUp yang mana milik istrinya Achmad Zaky. Sebab, sebagai Presiden RI itu sudah menjadi kewajibannya untuk mengayomi putra-putri terbaik bangsa. Tak perlu menuntut rasa pamrih, sebab Jokowi juga enggak bakal peduli-peduli amat. Kenapa kalian sebagai pendukung yang nyolot??.

Justru, twit frontal Achmad Zaky yang menyebut industri 4.0 omong kosong karena anggaran R&D yang masih kecil harus jadi instrospeksi atau PR presiden 2019-2024. Jadi jangan terlalu baper ketika Achmad Zaky bilang kalau ‘semoga presiden baru bisa naikin’. Orang pengin ngetwit gitu kan urusannya, meskipun kita sendiri tak tahu siapa capres yang akan ia pilih. Kalian pengin banget ia klarifikasi kalau presiden baru itu siapa?. Kenapa enggak presiden terpilih?. Seharusnya, kalian sebagai pendukung Jokowi beri ia masukan agar memperhatikan R&D di Indonesia, biar obrolannya lebih produktif.

Tapi ternyata hasrat untuk membuat keributan sudah tertanam kepada siapapun yang sudah fanatik. Kalian tuh kembar identik dengan kubu sebelah yang juga hobi boikot. Tak perlu banyak berapologi agar jadi alibi bahwa keputusan #UninstallBukalapak lebih elegan dibanding mereka yang sering kalian ejek sumbu pendek. Karena kalian menganggap Achmad Zaky sebarkan data kurang akurat untuk menyerang junjungan kalian. Bahkan parahnya sampai mencaci maki kalau si CEO itu kacang lupa sama kulitnya. Dasar manusia-manusia anti kritik.

Istilah LupaBapak ini muncul dari siapa sih?. Kesannya orde baru banget. Kalau mau sukses harus nurut sama presiden, kalau enggak gitu bakal dijegal?. Justru keberanian Achmad Zaky menyuarakan dan mengkritik pemerintah Indonesia menjadi bukti bahwa BukaLapak bukan termasuk crony capitalism rezim Jokowi. Ia bebas menyuarakan pendapatnya ke publik sebagai bentuk keresahan. Tak harus jadi partisan atau buzzer salah satu calon.

Ketika bicara crony capitalism, kita perlu mengulas masa lalu saat Soeharto. Di zaman orde baru itu, Soeharto membentuk kroni-kroni itu merangkul Liem Sioe Liong, Bos BCA atau juga Salim Group. Mereka semua mendapat jatah yang pas bahkan ultra sejahtera, karena patuh dengan Soeharto. Kesempatan untuk berbeda pendapat dikekang. Hidup masak harus dibiasakan mengangguk ketika melihat sebuah ketimpangan di Indonesia. Sebab, BukaLapak bisa menjadi bisnis unicorn tentu atas usahanya sendiri merintis selama 9 tahun. BukaLapak bukan budak.

Akibatnya pergerakan sporadis tagar #UninstallBukalapak ditangkap kubu lawan sebagai bahan untuk digoreng. Kubu oposisi mengambil momen secara satu komando menaikkan #UninstallJokowi dan #ShutDownJokowi hingga masuk trending topic dunia. Lalu, akhirnya buzzer-buzzer resmi Jokowi pun belingsatan untuk meng-counter-nya, namun terlambat. Karena gerombolan #OrangBaikPilihJokowi blunder yang disebabkan oleh emosi sesaat nan brutal.

Hobi sok ngatur tanpa memiliki landasan yang kuat hanya membuat kalian terlihat bodoh. Apakah itu cerminan dari kubu progresif yang diagung-agungkan oleh Budiman Sudjatmiko?. Aahh, rasa-rasanya kalian sama konservatifnya dengan kubu sebelah. Fanatisme buta para pendukung Jokowi justru mencerminkan kebusukan rezimnya. Pergerakan akar rumput hobi nyolot menganggap setiap kebijakan yang ditempuh Jokowi membuat BukaLapak menjadi unicorn. Padahal kan ada banyak variabel lain yang melandasinya.

Tapi saya cukup menyayangkan sikap Achmad Zaky menghapus twit yang dianggap tidak bijaksana oleh pecinta Jokowi. Namun, mungkin juga dia ingin menyelamatkan perusahaannya yang mempekerjakan 1.500 orang itu dengan cara menurunkan rasa egonya tersebut. Tentunya, Founder BukaLapak bisa mengambil pelajaran kalau tahun politik ini semua orang berubah jadi lebih mudah tersinggung dan hobi menyerang orang yang berseberangan secara bar-bar.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

lembaga anti korupsi

Sebelum KPK, Ada 8 Lembaga Anti Korupsi

JATUH bangun lembaga anti korupsi didirikan sejak 1959. Beberapa pejabat tinggi aparatur negara kerap terseret …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *