Home / Artikel / Emak-Emak Militan Sebar Hoax

Emak-Emak Militan Sebar Hoax

sebar hoax
Source: Google Images

Keresahan melihat emak-emak militan sebar hoax. karena itu, kualitas emak-emak harus ditingkatkan, tak terkecuali. Jangan mau dianggap hanya bisa produktif dalam urusan anak.

TAK habis pikir dengan aksi emak-emak di Karawang, Jawa Barat yang nekat berkampanye hitam secara door to door. Seorang perempuan bernama Citra Wida pun telah diamankan oleh Polres Karawang dan sedang proses ditangani oleh Polda Jabar. Citra Wida tak sendirian, ia bersama dua emak lain yang sangat militan mendukung pasangan capres-cawapres 02. Mereka tak puas berkampanye lewat media sosial. Agitasi mereka yang sangat kasar itu bergeser turun ke jalan. Bahan kampanye hitamnya ialah menghasut warga kalau petahana atau pasangan capres-cawapres 01 menang, kelak tidak akan lagi ada azan dan perkawinan sesama jenis dilegalkan.

Uniknya, aksi kampanye hitam itu direkam lalu diunggah ke media sosial. Sehingga viral seantero jagat maya. ‘Moal aya deui sora azan, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awene meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin,” kata perempuan di video yang viral berbahasa sunda. Entah apa yang terlintas di pikiran para emak-emak militan itu nekat sebar hoax. Alasan yang melandasinya pun tak ada. Sehingga bisa dibilang itu fitnah yang menohok kubu petahana. Karena setahu saya, kubu petahana masih sangat mempertahankan status quo. Kaum LGBT tidak pernah diakui hak hidupnya di Indonesia. Kedua kubu alergi untuk membahas isu tersebut.

Karena itu, bagi saya kedua kubu terkesan main aman. Sebab isu LGBT masih tabu di kalangan masyarakat. Tapi ada celah untuk menggoreng isu tersebut, sehingga kubu 02 sepertinya curi start menyerang kubu 01. Meskipun sebenarnya ada tanda tanya besar orientasi seksual anak kandung Prabowo. Jadi prinsipnya daripada diserang duluan, lebih baik menyerang dahulu. Sehingga posisi kubu 02 aman. Namun ada juga kemungkinan pendukung 02 memang mudah menelan informasi hoax tanpa dibarengi dengan fact-checking. Akhirnya berujung blunder.

Tak berhenti di situ, adapun salah satu pesohor yang juga emak-emak Neno Warisman sangat militan meminta sumbangan dari masyarakat pendukung kubu 02. Lalu, baru-baru ini mengancam tuhan saat berdoa di acara Munajat 212. Neno berdoa meminta kepada tuhan agar memenangkan Prabowo. Sebab, apabila Prabowo, kelak tak akan ada lagi masyarakat yang menyembah tuhan. Setahu saya, isu LGBT memang pertama kali dihembuskan oleh selebriti yang dadakan dipanggil ustazah tersebut.

Budaya ignoran dan apriori seperti itulah yang membuat banyak orang geram. Karena manusia diberi akal agar mampu berpikir. Bukan malah menelan mentah-mentah semua informasi sebagai kebenaran. Padahal tindakan asal klaim tanpa kroscek seharusnya diuji terlebih dahulu. Kebiasaan meneruskan kiriman WhatsApp secara serampangan juga akan menjerumuskan banyak orang. Kasihan orang yang terjerumus itu semakin bodoh.

Emak-Emak Harus Lebih Produktif

Kualitas emak-emak harus ditingkatkan, tak terkecuali. Jangan mau dianggap hanya bisa produktif dalam urusan anak. Kompak dan solid mendukung salah satu paslon itu lumrah. Namun, jangan mau dibodohi oleh para agitator ulung yang hanya ingin berkuasa saja. Penting bagi emak-emak untuk terus belajar. Kebebasan berpendapat di publik oleh kalangan perempuan sangat istimewa. Namun jangan coreng keistimewaan itu dengan sukarela diperalat oleh para elit politik. Ambil peran di tengan kemajemukan masyarakat dan selalu suarakan kebenaran.

Wawasan para emak-emak harus semakin luas. Saya yakin kelak kedudukan perempuan bisa setara dengan pria, meskipun stereotipe masih terus beredar. Namun setidaknya emak-emak jangan mau dikalahkan oleh hegemoni maskulinitas. Indonesia harus makin berwarna dengan hadirnya kaum perempuan yang juga mampu mendinginkan iklim politik.

Ada banyak cara elegan yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para emak-emak. Bisa lewat tulisan, orasi, atau kampanye yang menggugah. Jangan mengulang kebodohan di masa lalu. Sosok manusia yang dilabeli sebagai madrasah pertama bagi anak tentu perlu kreatif mengemas setiap tindak tanduknya.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

pengangguran digaji

Pengangguran Digaji? Berikut Negara yang Sudah Menerapkannya

SETUJUKAH kalian dengan janji politik capres Jokowi kalau kelak pengangguran digaji menggunakan kartu pra kerja?. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *