Home / Hiburan / Foxtrot Six: Distopia Ala Hollywood Bernafaskan Indonesia

Foxtrot Six: Distopia Ala Hollywood Bernafaskan Indonesia

foxtrot six
Source: Google Images

PERTAMA kali menonton film Foxtrot Six pasti langsung terpana. Sebab baru pertama kalinya lahir film asli Indonesia yang bercitarasa Hollywood. Tak bermaksud bersikap inferior, namun itulah bukti bahwa industri film di Indonesia terus berkembang pesat. Saya pun optimistis ke depannya akan lebih banyak lagi film Indonesia yang berkualitas dari segi cerita dan pemanfaatan CGI secara proporsional. Karena sejauh ini, beberapa film Indonesia yang menggunakan teknologi CGI masih kurang optimal. Hanya bagus CGI-nya, namun mandul dalam pembangunan karakter maupun ceritanya.

Alasan saya suka dengan Foxtrot Six karena mengusung cerita distopia. Sepertinya belum ada film Indonesia yang mengusung cerita tersebut. Ketika saya mencoba untuk mengulik penggarapan film ini, saya cukup kagum. Sebab, film sudah mulai digarap sejak 2010 silam berupa film pendek. Sebelumnya, saya benar-benar tidak memiliki ekspektasi apapun. Bahkan saya tidak pernah mendengar nama Randy Korompis sebagai sutradara film ini. Karena memang film ini merupakan debut Randy Korompis sebagai sutradara. Saya pun tidak mengenal Mario Kassar sebagai produser film ini. Ternyata, Mario Kassar merupakan produser asal Amerika yang memproduseri film-film blockbuster seperti Rambo, Total Recall, Terminator, dan masih banyak lagi.

Saya menyarankan kalian semua perlu menonton film ini, karena sangat memberikan pengalaman yang berbeda ketika di bioskop. Semua akting aktor dan aktris sangat matang. Pembangunan cerita pun sangat berbobot. Namun, bagi kalian yang tidak suka membaca gejala dunia perpolitikan, sepertinya kalian akan bosan. Sebab, setiap scene sangat bermakna, terlewat sedikit saja, pasti akan akan merasa bingung dengan alur ceritanya. Tidak ada plot twist, tapi kompleksitas ceritanya bagi saya bagus. Foxtrot Six memang cocok bagi kalian yang suka dunia politik dan konspirasi.

Randy Korompis sangat serius menggarap Foxtrot Six dan saya sangat berharap bisa dinikmati oleh semua orang di dunia. Sebab, semua dialog di film ini menggunakan bahasa Inggris, namun semua latar, kru, artis, dan semuanya serba Indonesia. Informasinya, film ini menghabiskan biaya sebesar Rp 70 miliar. Tapi sayangnya, saya merasa promosi film Foxtrot Six kurang nendang. Karena mungkin saja masih banyak orang Indonesia yang masih skeptis dengan kemampuan orang Indonesia menciptakan film beraliran action sci-fi.

[SPOILER ALERT]

Foxtrot Six Memaparkan Distopia yang Sangat Dekat dengan Perpolitikan Indonesia

Foxtrot Six mengajak seluruh penonton berpikir. Diceritakan awal seorang tentara khusus Angga (Oka Antara) sedang melamar seorang jurnalis perempuan bernama Sari Nirmala (Julie Estelle) saat terjadi gejolak politik di masa-masa pemilihan umum. Mungkin saat itu setting-nya tahun 2018 atau 2019. Kesan awal yang ditampilkan sosok Angga ialah pragmatis namun ambisius. Ia skeptis dengan pilihan politik Sari yang mendukung salah satu calon presiden bernama Indra (Miller Khan). Karena kondisinya saat itu sangat pelik, Indonesia menjadi sorotan dunia karena memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Kemudian ceritanya langsung maju 12 tahun, tepatnya 2031. Kondisi Indonesia diceritakan sedang mengalami krisis pangan karena presiden Indra dikudeta oleh pasukan militernya sendiri bernama Gerram. Aktor intelektual kudeta tersebut berasal dari salah satu partai politik culas bernama Piranas. Mereka dari Piranas sangat tamak dan berusaha mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya. Karena itu, Angga sebagai tentara khusus yang sejak awal tidak yakin dengan presiden Indra, tentunya bergabung dengan Piranas. Bahkan ia pun di tahun 2031 telah menjadi anggota dewan yang serakah. Kekayaannya sangat melimpah, namun hatinya kosong karena setahu dia pujaan hatinya Sari telah meninggal ketika masa-masa kerusuhan kudeta.

Awal menontonnya, saya langsung merasa dekat dengan cerita ini. Saya langsung ingat Prabowo Subianto pernah berpidato bahwa pada 2030 Indonesia akan punah, karena krisis sumber daya alam. Prabowo saat itu merujuk dari novel bernama Ghost Fleet. Tentu sangat menyentil banyak penonton yang mengikuti perpolitikan Indonesia. Kemudian, cerita Foxtrot Six berlanjut ambisi Angga ingin menjalankan operasi rahasia untuk melawan gerakan separatis di akar rumput yang tidak sepakat dengan rezim tirani yang diterapkan Piranas. Gerakan separatis itu menamai diri mereka The Reform. Akhirnya, rencana jahat itu disetujui oleh Piranas. Kebetulan Angga diminta untuk kerjasama dengan sesama tentara khusus bernama Wisnu (Edward Akbar) untuk menumpas The Reform.

Tap ternyata ketika Angga mampu menembus markas The Reform, ia bertemu dengan Sari. Angga pun terkejut dan bergejolak pikirannya. Ternyata Sari merupakan pemimpin The Reform untuk mengawal presiden Indra. Anggota The Reform bisa dibilang simpatisan militan Indra. Di markas tersebut ada banyak rakyat dirawat dan dihidupi. The Reform pun memiliki persenjataan yang sangat terbatas. Sehingga akhirnya Angga yang sebelumnya ingin membasmi The Reform, justru berbalik masuk ke dalam The Reform. Karena ia memilih untuk hidup lebih dekat dengan cinta sejatinya itu. Ditambah lagi, Sari hidup dengan seorang anak perempuan yang ternyata merupakan anak kandung Angga sendiri. Angga semakin ingin menebus dosa-dosanya kepada Sari.

Konflik semakin memanas tentara Gerram yang dipimpin oleh Wisnu semakin canggih. Mereka langsung mencari markas The Reform. Angga pun jadi buronan negara, karena sebagai anggota dewan dirinya membelot pada negara yang saat dipimpin oleh Piranas. Angga tak tinggal diam, ia berusaha mengumpulkan kawan lamanya yang memiliki kemampuan dalam perang. Di antaranya Oggi (Verdi Sulaiman) ahli medis dan bahan peledak, Tino (Arifin Putra) ahli strategi, Bara (Rio Dewanto) point man, Ethan (Mike Lewis) ahli IT, dan satu lagi tentara misterius The Reform bernama Spec (Chicco Jerikho) ahli sniper.

Keenam tentara itu menamai diri mereka Foxtrot Six. Perlu diketahui Foxtrot itu merupakan alfabet fonetik yang digunakan oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO). Seringkali dipakai kode dalam dunia militer. Perang pun dimulai antara rezim tiran melawan gerakan separatis yang menginginkan reformasi. Pucuk pimpinan Piranas bernama Barona (Willem Bevers) sangat licik. Ia mengutus semua tentara Gerram untuk melakukan genosida terhadap The Reform. Bahkan saking liciknya Barona menyuruh Wisnu untuk membuat skenario jahat dengan cara menculik semua menteri lalu dibunuh. Namun, membunuhnya dengan cara menyamar seperti pasukan The Reform. Skenario jahat pun berhasil dilakukan. Video pembunuhan para menteri oleh Gerram dengan menyamar sebagai The Reform pun tersebar. Sehingga, rakyat pun semakin benci dengan The Reform. Dan harapannya rakyat makin bangga dan yakin atas semua tindakan Barona.

Namun, dengan kegigihan Foxtrot Six, rencana jahat itu berhasil digagalkan. Bahkan Barona dipermalukan di depan umum oleh semua rakyat. Angga dan kawan-kawan berhasil menumpas Gerram dengan cerdik. Salah satu scene terbaik ketika Bara duel dengan pasukan Gerram sendirian. Dia terlihat sangat badass. Rangkaian cerita tadi pun mengingatkan saya dengan Indonesia yang pernah mengalami masa-masa kelam pada 1965, yang mana orde lama digantikan orde baru. Intrik-intrik politik yang digunakan Randy Korompis sangat mengena.

Dan saya ingatkan ya, di akhir film ini ada after credit scene, jadi jangan buru-buru keluar dari bioskop. Ada kemungkinan Foxtrot Six ada kelanjutannya. Mari kita tunggu saja.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

sebar hoax

Emak-Emak Militan Sebar Hoax

Keresahan melihat emak-emak militan sebar hoax. karena itu, kualitas emak-emak harus ditingkatkan, tak terkecuali. Jangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *