Home / Artikel / Jurnalis Tak Sekadar Mewartakan Peristiwa

Jurnalis Tak Sekadar Mewartakan Peristiwa

jurnalis
Source: Google Images

ENTAH mengapa langkah hidup mengarahkan menjadi seorang jurnalis. Hari ini, terhitung menjadi pemburu berita baru selama dua tahun tiga bulan. Ada banyak hal baru dipelajari, karena memang sangat kurang memiiki dasar pengetahuan seputar jurnalistik. Hingga di tengah-tengah perjalanan ini, bisa menemukan wadah untuk profesi yang saya geluti yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Bicara profesionalisme jurnalis, sepertinya butuh proses. Banyak hal di lapangan yang awam dan perlu asupan nasehat. Pernah suatu ketika saat di lapangan, masuk pesan WhatsApp menanyakan berita yang tayang hari ini. Pengirim pesan tersebut salah satu polisi bagian humas. Isi pesannya menegur keras, karena salah berita yang tayang memuat identitas beserta alamat korban pemerkosaan.

Meski ditegur keras, alih-alih langsung minta maaf, justru saya masih berusaha membantahnya. Saya katakan bahwa di berita hanya inisial, bukan nama lengkap. Ternyata tetap saja salah, akhirnya minta maaf jalan terakhirnya. Sebelum berita itu turun, setelah data kasus pemerkosaan itu sudah lengkap, saya memilih mengkonfirmasi Kanit PPA Polres Bojonegoro menanyakan nama dan alamat korban. Blunder. Saat itu, baru menginjak satu tahun sebagai jurnalis, awalnya floating selama 12 bulan lalu diposkan kriminal.

Di sela-sela berbalas pesan WhatsApp, seketika mencari informasi tentang kode etik jurnalis menuliskan berita kekerasan atau kejahatan seksual. Saya dipertemukan dengan salah satu artikel yang ditulis di situs AJI. Saya ingat betul judul artikelnya, Etika Perlindungan Privasi dalam Peliputan Kejahatan Seksual. Rasanya tertampar dan dirundung rasa bersalah terhadap korban. Saya mengira menuliskan inisial sudah aman.

Pun kode etik AJI pada poin 20 menyebutkan bahwa Jurnalis  dilarang menyajikan berita atau karya jurnalistik  dengan mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik, psikologis, dan seksual. Karena hal tersebut merupakan kekerasan psikologis yang memang bisa berupa sebuah tindakan verbal maupun non verbal yang mengakibatkan trauma.

Sayang sekali, redaktur-redaktur tidak ada yang mengingatkan soal itu. Mungkin saja ketika menyunting tulisan saya juga lupa apabila beritanya seputar kasus pemerkosaan. Karena itu, belajar dari kesalahan sangatlah penting. Untung hanya satu orang yang menegur, pikir saya. Namun, tetap tak bisa dibenarkan dianggap remeh, kebodohan itu masih tersimpan rapi di memori saya. Sehingga, tak ingin mengulang kebodohan itu lagi.

Selain berita pemerkosaan, saya dulu juga sangat sering memberitakan soal bunuh diri. Sebisa mungkin, saya cari informasi penyebab orang itu bunuh diri secara detail. Sehingga, seolah-seolah informasi penyebab bunuh diri itu sangat utama, tak ada penyebab pendukung lainnya. Semisal, kita semua masih sering temui judul berita Putus Cinta, Remaja 18 Tahun Tenggak Racuk Serangga atau Stres Skripsi, Mahasiswa Kampus A Gantung Diri di Kamar Kos.

Untungnya, tak cukup lama tersadar dari kebodohan itu. Ketika saya bertemu dan bertukar informasi dengan seorang psikolog di RS Aisyiah Bojonegoro, Hartatik. Psikolog yang tinggal di Desa Pacul Kecamatan Bojonegoro Kota itu menerangkan, bahwa kasus bunuh diri tidak bisa disimplifikasi penyebabnya. Sebab, ada banyak faktor yang terakumulasi sehingga muncul keputusan akhir untuk bunuh diri. Bahkan, imbuh dia, sebelum bunuh diri itu menghilangkan nyawanya, ada kemungkinan percobaan bunuh diri lebih dari sekali.

Karena itu, sebagai jurnalis yang bekerja untuk public tentu wajib memberikan informasi tersebut. Tak sekadar pemberitaan bunuh diri semata, tapi menyelipkan edukasi dan pesan kepada para pembaca dari sudut pandang psikolog. Tak lagi menghakimi kasus bunuh diri berdasarkan salah satu penyebab saja. Sejauh ini, saya paling sering memberitakan seputar data bunuh diri tiap tahunnya, lalu tindakan apa saja yang akan dilakukan pemerintah untuk menekan angka tersebut.

Selalu ingat pesan Cak Rusdi Mathari, bahwa jurnalisme bukan monopoli wartawan. Sehingga, saya terus belajar untuk tidak menyembunyikan informasi penting bagi publik. Pemberitaan pun harus seimbang. Sehingga, menuju jurnalis yang professional harus selalu belajar. Tantangan ke depannya pasti ada, apalagi saya yang mengarungi samudra jurnalistik menaiki kapal media cetak, tentu butuh usaha ekstra. Selain professional, jurnalis sangat perlu kreatif.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

bersanggama

Bersanggama dengan Istri Juga Butuh Kesepakatan

Ketika bersanggama dengan istri tidak asal tubruk. Karena istri juga manusia, bukan benda mati. Jadi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *