Home / Artikel / KKM: Kriteria Kebobrokan Maksimum

KKM: Kriteria Kebobrokan Maksimum

kkm
Source: Google Images

Mental pelajar zaman sekarang itu lemah! Buat apa, sih, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) itu?. Dewasa ini, sekolah jadi berlomba-lomba menaikkan KKM demi reputasi. Loh, kan bagus? Siswa jadi semakin giat belajar untuk mencapai KKM yang ditargetkan?. Sayangnya, arah kebijakan ini sama sekali tidak ke sana. KKM yang terus melangit itu disertai syarat nan berat bagi guru pengampu mata pelajaran: siswa tidak boleh mendapat nilai rapor di bawah KKM.

Guru sekarang dituntut untuk berlaku tidak jujur. Praktik “katrol nilai” pun seolah hal lazim. Nilai yang tadinya hanya 20, dikatrol jadi 85. Yang tadinya hanya 30, dikatrol jadi 88. Yang tadinya hanya 40, dikatrol jadi 90. Mengerikan. Kalau guru saja sudah kencing sambil parkour begini, masih berharap siswa menjadi manusia yang baik?

Bukan hanya guru, siswa pun jadi bermental pengangguran, lebih mengerikan jadi bermental pencuri. Yang bermental pengangguran akan berpikir, “ah, enggak papa sekarang remedi, toh, nanti juga dikatrol.” Kalau penulis jadi siswa zaman now, sudah pasti tidak akan mau belajar. Buat apa susah-susah menghafal rumus fisika? Kalau akhirnya, hafal atau tidak hafal, bisa atau tidak bisa, tetap lulus-lulus juga.

Yang bermental pencuri bekerja lebih sistematis. Bandar- bandar soal ulangan berkeliaran. Soal ulangan bocor
adalah hal biasa. Tak sampai di sana, Brainly akan lebih diandalkan saat ulangan dibandingkan brain-nya mereka sendiri. Lipatan rok digunakan untuk menyembunyikan gawai. Kolong meja digunakan untuk menyimpan buku catatan. Sangat luar biasa melihat bagaimana mereka bekerja. Rapi. Penuh tipuan mata.

Bobroknya mental siswa diperparah dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Anak, tetapi ketiadaan Undang-Undang Perlindungan Guru. Usaha sekecil apa pun dari guru untuk mendisiplinkan siswa akan dengan mudah dicap sebagai kekerasan fisik. Ya, paling tidak, kekerasan verbal. Kekebalan hukum ini yang membuat banyaknya video viral akhir-akhir ini yang memperlihatkan siswa menghajar gurunya sendiri. Guru memang bukan dewa yang tak bisa salah, tetapi siswa juga bukan tuhan yang tak bisa disentuh hukuman.

Miris, bagaimana sistem pendidikan kita telah membentuk mental lemah pelajar kita. Di lain sisi, menuntut guru untuk berperilaku tak jauh berbeda.

Komentar

About Xiafuliang

Check Also

mantan

Mantan, Lupakan atau Jadikan Teman?

Sebuah penelitian yang diterbitkan  oleh jurnalrisa mengungkapkan bahwa seseorang yang berteman dengan mantan pacar berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *