Home / Artikel / Alasan Saya ‘Misuh’

Alasan Saya ‘Misuh’

Source: Google Images

Tentu, tumbuh dan berkembang di bawah didikan orang tua yang menerapkan standar perilaku ‘Priyayi’ yang dioplos dengan ‘Islam konservatif’, saya nggak pernah dibolehkan misah-misuh. Alih-alih dibiarkan mengumpat, bilang ‘Sontoloyo’ aja saya udah auto kena setrap.

Barangkali, bagi yang sudah mengenal saya dengan baik, hafal banget bahwa saya lebih sering mengucapkan ‘jancuk’ ketimbang ‘Astaghfirullahaladzim’. Terutama saat saya kesandung misalnya.

Kebiasaan ini, tentu nggak lepas dari kritik banyak orang, kawan baik saya salah satunya sebut saja Hari. Ia bisa dibilang yang paling sering habiskan waktu bersama saya, bahkan saat kami sudah tinggal di pulau yang berbeda begini. hampir 10 tahun berkawan, nggak heran kalau dia sudah semacam makanan sehari-hari mendengar saya misah-misuh. 

Yang barangkali nggak dipahami oleh Hari maupun kawan-kawan yang lain, saya selalu punya alasan atas segala perilaku, termasuk perilaku misuh ini. Ada banyak malah, haha…

Pertama, bagi saya, misuh adalah bentuk pemberontakan pada konstruksi sosial. Orang selalu bilang bahwa perempuan nggak pantas misuh, nggak boleh misuh, nggak baik misuh, dll. Belum lagi perempuan misuh’an bakal dianggap sebagai perempuan nggak bener, perempuan nakal, perempuan yang mulutnya kotor, dll. Konstruksi ini nyatanya bukan cuma tertanam di benak orang-orang timur saja, tapi juga di barat

Saya cuma berpikir, atas dasar apa sekelumit kata-kata ini menjadi haram bagi separuh jumlah penduduk dunia? Toh, kita semua paham bahwa pada hakikatnya seluruh kata adalah netral. Bagi saya, mengumpat itu hasrat naluriah manusia. Orang bebas mau mengekspresikan itu lewat kata apapun, termasuk kata ‘jancuk’, ‘bgsd’, maupun ‘jmpt’. Begitupun dengan perempuan.

Lagian, kalau memang hasrat mengumpat itu naluriah dan kata-kata di atas cuma halal diucapkan pria, lantas perempuan kalau pengen mengumpat harus pakai kata apa? Pake ‘Astaghfirullahaladziim’? Kurang kearifan lokaaal kaaak, terlalu Arabiancentric.

Saya selalu percaya, ketika Sudjiwo Tedjo kerap menyapa para followersnya dengan ‘cuk’ bahkan nggak segan mengungkap ‘Jancuk’ di wacana-wacananya, ia tahu bahwa itu bukan semata karena dia adalah pria. Ia tahu juga bahwa followersnya nggak semuanya lakik. Menurut saya, itu semua sebagai cara Presiden Jancukers ini membumi-ramah-kan kata ‘Jancuk’.

Sudjiwo juga sekaligus menyadarkan bahwa kata bisa jadi tidak bebas nilai, tapi kita bisa mengkonstruksi nilainya, semau kita. Termasuk Sudjiwo yang barangkali memaknakan Jancuk sebagai bentuk keakraban, dll. Sementara saya, jelas, memaknakannya sebagai pemberontakan. 

Lewat jancuk dan kawan-kawannya itu saya ingin tunjukkan bahwa hegemoni patriarki ini nggak berlaku buat saya, setidaknya dalam berekspresi. Lahir, tumbuh, dan hidup di tanah ini sudah pasti kehidupan saya bakal berada di jalur patriarki dalam seluruh fase kehidupan (maksudnya fase menjadi remaja sampai dewasa, single dan menikah, dll). Namun saya menolak tunduk jika berurusan dengan kebebasan berekspresi.

Tentu, tumbuh dan berkembang di bawah didikan orang tua yang menerapkan standar perilaku ‘priyayi’ yang dioplos dengan ‘Islam konservatif’, saya nggak pernah dibolehkan misah-misuh. Alih-alih dibiarkan mengumpat, bilang ‘Sontoloyo’ aja saya udah auto kena setrap. Artinya, misah-misuh saya ini bukan berarti saya nggak pernah diajarin orang tua cara ‘njogo tutuk’ yang baik. Bahkan ada semacam doktrin bahwa perilaku ini identic dengan masyarakat kelas bawah. 

Namun, di sisi yang lain saya menyadari bahwa kebiasaan ini nggak boleh terus-terusan dipelihara. Saya cukup merasa egois ketika masih terus begini setidaknya sampai saya punya anak misalnya. Saya menyadari, mengumpat ini sama seperti nafsu yang lain, yang seharusnya mampu ditahan atau setidaknya disalurkan dengan bijaksana. Adakah ide untuk itu?

Entahlah saya akan terus melakukan pemberontakan ini sampai kapan. Misi saya jelas sih, saya ingin orang-orang berhenti menyematkan hak-hak bertendensi gender pada kata-kata tertentu. Itu saja.

Komentar

About Tantri Dwi Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *