Home / Artikel / Wacana Soal ‘Cewek Matre’ Itu Basi Banget

Wacana Soal ‘Cewek Matre’ Itu Basi Banget

cewek matre
Source: Google Images

Jika ‘cewek matre’ itu hina, ada saja tuh pria yang memilih jadi hina di tengah kemapanan ideologi patriarki di negara ini.

Waktu saya masih ABG dulu, rasa-rasanya gencar banget wacana soal cewek matre. Dari dulu, hingga sekarang definisi saya cuma satu, cewek matre adalah perempuan yang menjadikan urusan materi itu sebagai kriteria utamanya dalam menilai pria. Enggak cuma dulu sih, sampai sekarang wacana soal ini masih terus ada.

Entah kenapa ini kemudian tampaknya berkembang jadi peyorasi di masyarakat. Bahkan sampai ada lagu yang liriknya ‘cewek matre, cewek matre ke laut aje.’ Ah elah, ketahuan tuanya, kan? Ini lagu ciptaan Black Skin judulnya Cewek Matre. Seingat saya, lagu ini populer di tahun 90-an hingga 2000-an awal.

Ya, peyorasi. Seolah-olah cewek yang matre itu suatu hal yang hina. Padahal bisa jadi ini cuma konstruksi para pegiat patriarki biar pandangan ‘matre’ ini enggak tumbuh subur di masyarakat. Alih-alih kerja keras dan buktikan diri bahwa lelaki selalu bisa bersaing dalam hal mengejar materi, lebih baik matikan saja perspektif ‘matre’ ini, selesai urusan. Ini sih cuma dugaan sok tahu saya saja lho, tahan… jangan emosi jiwa anda.~

Di sisi lain, dengan definisi matre yang sudah saya jabarkan di awal tadi, saya sendiri sebetulnya tidak menyepakati pandangan ini. Sesederhana materi bisa dicari dan sudah dijamin oleh Allah SWT, maka menaruh urusan materi sebagai prioritas kok rasanya kurang bijak. Terlebih kalau CUMA lihat materi, ini jelas menyalahi prinsip saya yang melihat apa-apa tidak boleh dangkal. Menilai satu individu yang super duper kompleks pada satu aspek saja? Big No, No.

Pandangan tersebut bahkan diinisiasi oleh papa saya sendiri. Saya masih ingat, lebaran kemarin, ada seorang pria bergelar ‘Paskhas AURI’ yang datang ke rumah bersama keluarganya. Niat mereka adalah berta’aruf. Dalam pidato sambutannya, papa saya menekankan bahwa yang paling penting adalah rasa. “Biarkan mereka berdua (diriku dan mas itu) saling mengenal secara natural. Karena bukan soal harta pak, bu, yang terpenting adalah kehadiran rasa di antara mereka dulu,” ujar Papa.

Kemudian enggak kalah masif adalah wacana soal ‘cewek itu ya emang harus matre!’. Pandangan ini bahkan dianut juga sama para wanita lho! Saya sering sekali dulu ditanya sama teman kos setiap kali pulang nge-date. “Dibayarin enggak mbak? Ha? Enggak? Idih kalau aku sih ogah diajak keluar kalau nggak dibayarin,” tanya teman saya. Justru, bagi saya ini lucu. Pria yang enggak segan kasih dompetnya saat kami nge-date juga enggak kalah lucu. Eggak pernah tuh saya sentuh dompetnya.

Wacana tersebut juga menjamur dengan berbagai justifikasi. Mulai dari harus memastikan prianya bisa menafkahi sang anak kelak sampai kita sebagai wanita sudah dibesarkan dengan limpahan harta oleh keluarga. Ini, sungguh enggak pernah bisa saya pahami. I mean pemikiran soal itu perlu, tapi bukankah itu dipikirkan kalau sudah pada pengin nikah? Sementara nikah adalah usaha bersama bukan? Enggak relate men, kalau mau nikah cuma semata mikirin materinya doang.

Lucunya, seperti judul tulisan ini, yang enggak kalah banyak adalah cowok matre. Setidaknya menurut pengalaman saya sih. Jika ‘matre’ itu hina, ada saja tuh pria yang memilih jadi hina di tengah kemapanan ideologi patriarki di negara ini.

Fakta ini enggak masif di wacana publik, dugaan saya sebab fenomena ini akan disikapi serupa dengan pelecehan seksual. Para korban pelecehan seksual kenapa jarang mau bercerita? Saya sendiri sebagai yang pernah mengalami merasa enggan cerita sebab saya takut publik akan membodoh-bodohkan dan menyalahkan saya. Saya takut orang akan bilang “Salah’e gelem,”, “Salah bajumu itu,”, atau “Yo koen sing goblok, meneng ae koen?”.

Barangkali, para korban cowok matre ini juga enggan cerita ke publik sebab khawatir mendapat reaksi serupa. “Yo koen sing goblok. Lanangan kere mbok openi,” semacam itulah. Ia akan disalahkan, bukan prianya yang disalahkan. Sebab apa? Sebab mapannya patriarki. Patriarki meletakkan pria selalu benar, selalu berkuasa, termasuk ketika mereka matre. Sementara perempuan dibilang bodoh dan lemah termasuk ketika mereka di-matre-in. Bagaimana menurutmu?

Komentar

About Tantri Dwi Rahma

Check Also

jurnalis

Jurnalis Tak Sekadar Mewartakan Peristiwa

ENTAH mengapa langkah hidup mengarahkan menjadi seorang jurnalis. Hari ini, terhitung menjadi pemburu berita baru …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *