Home / Artikel / Menolak Dehumanisasi Perempuan

Menolak Dehumanisasi Perempuan

dehumanisasi perempuan
Source: Google Images

Apapun pilihannya, perawan tidak perawan, sebagai individu hal-hal itu sepatutnya dihormati sebagai pilihan. Jadi sebaiknya kurang-kuranginlah melakukan dehumanisasi perempuan.

Waktu saya kecil, saya sering main sama teman-teman cowok. Enggak tahu ya, sekadar jadi tukang penadah buah kersen bagi saya menyenangkan banget. Ya, teman-teman cowok saya yang manjat pohon, saya cuma bagian mengumpulkan buahnya. Begitu doang lebih happy ketimbang main boneka-bonekaan yang lama-lama saya sadari ini ngapain pada ngomong sendiri dan pura-pura jadi dokter yang mengimunisasi.

Saat itu, mama saya sering bilang, enggak baik main-main sama anak cowok. Apalagi sampai main ke rumah mereka. Waktu saya tanya kenapa, beliau cuma bilang “Ya nggak baik aja, enggak pantas.” Dahi saya berkerut seketika kek pembalut. Sulit menerima penjelasan itu, ya saya tetap saja main sama mereka.

Beranjak remaja hingga tumbuh dewasa, ternyata ada makin banyak aturan sosial bagi perempuan. Selain dilarang main sama anak cowok, ada juga dilarang misuh, dilarang pulang malem, dan lain-lain. Lemme tell you, even my mum juga enggak ngebolehin aing pergi karaoke, nongkrong di kafe, makan di warung, pakai kaus oblong, pakai sandal jepit, dan lain-lain. For the sake of? Menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan dignitas.

Enggak habis pikir lagi, aturan ini bahkan mengintervensi hal-hal yang lebih privat lho, urusan relationship dan perasaan misalnya. Aturan ini barangkali enggak sekaku term ‘dilarang’ ya, tapi lebih ke ‘You should not‘. Haha.. itu menurut saya aja lho. Maksudnya, ya if you do this or that, you otomatis dipandang rendah, enggak pantas kalau kata Mama.

Misalnya, anggapan bahwa perempuan enggak seharusnya menyatakan perasaannya. Apa lagi? Perempuan enggak seharusnya talking about sex. Perempuan enggak seharusnya mau diajak ngeue sebelum nikah atau ada komitmen. Nih yang paling receh lagi, Perempuan enggak seharusnya chat duluan. Cuihh!

Bagi saya, anggapan-anggapan dan larangan-larangan itu enggak lebih dari dehumanisasi perempuan. Apa sih salahnya dari menyatakan perasaan pada cem-ceman (gebetan, Red)? Bukan cuma karena urusan menyatakan perasaan itu suka-suka dia, tapi juga sebagai manusia kan punya perasaan dan ketika itu diungkap bukankah sangat wajar melihat kebutuhannya untuk berekspresi?

Perempuan enggak seharusnya talking about sex. OMG, ini sungguh enggak habis pikir. Seringnya, sepengalaman saya, terutama ketika mengobrol sama cowok soal ini, saya kek langsung dianggap bisa diajak ngeue dan menerima kata-kata merendahkan. Ya enggak gitu juga keleus. Seks kan kebutuhan biologis yang dimiliki semua makhluk. Informasi soal seks juga gampang dicari di internet.

Artinya seharusnya itu enggak tabu. Bisa kok topik ini dilihat sebagai pengetahuan umum, sebiasa kita memperbincangkan artis yang baru ketangkap nyabu misalnya. Jika topik-topik semacam ini enggak jadi common, sayang banget pemahaman antar gender soal ini enggak berkembang. Bahkan, topik soal kesehatan reproduksi juga enggak jadi masif. Maksud hamba, ada banyak hal positif yang possible untuk berkembang kalau topik ini jadi biasa diobrolin di kopian.

Selanjutnya, pandangan bahwa perempuan nggak seharusnya mau diajak ngeue sebelum nikah. Nope, kesampingkan dulu norma agama dalam hal ini, sebab kalau bawa-bawa agama, seharusnya seks pra nikah juga enggak dilakukan oleh cowok dong.

Saya tuh sebal banget sama cap ‘cewek murahan’, ‘cewek gampangan’, ‘perek’, dan sebutan lain yang biasa disematkan pada perempuan yang melakukan seks pra nikah. Bukan soal norma atau apa, tapi soal menghormati pilihan orang.

Sebagai manusia, bukankah kita sangat bebas untuk punya pilihan? Termasuk bebas memilih seks pra nikah atau enggak. Mereka punya otoritas atas kelamin masing-masing. Saya enggak pernah mengerti atas dasar apa kehormatan perempuan harus disandarkan hanya pada kelaminnya. Belum lagi peyoratif pada ketidakperawanan. Duh, basi beb.

Apapun pilihannya, perawan tidak perawan, sebagai individu hal-hal itu sepatutnya dihormati sebagai pilihan. Toh, itu bukan tindakan kriminal atau mungkin merugikan orang lain. Itu betul-betul selayaknya dipandang sebagai pilihan personal.

Bagi saya, aturan-aturan dan anggapan-anggapan itu nggak fundamental. Kendati sampai sekarang pun saya percaya selalu ada alasan atas itu semua, barangkali saya belum menemukannya. Namun mari kita sama-sama berdoa kalaupun saya menemukan alasannya, alasan-alasan itu bukanlah soal pengagungan pada hegemoni patriarki.

Komentar

About Tantri Dwi Rahma

Check Also

hari ibu

22 Desember Tak Sekadar Hari Ibu, Cek Sejarahnya

JUDUL hanya pemanis, sebab saya risih melihat romantisasi hari ibu yang sangat tidak mencerminkan sejarah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *