Home / Travel / Plesiran ke Berbagai Sudut Pasar Kota Pahlawan

Plesiran ke Berbagai Sudut Pasar Kota Pahlawan

wisata pasar
Source: Google Images

Kalau berkesempatan datang ke Surabaya, tentu tak ada salahnya untuk blusukan dari satu pasar ke pasar lainnya atau bisa dibilang wisata pasar.

Berwisata ke pasar tradisional? Kenapa tidak? Banyak pasar tradisional yang disulap oleh pemerintah setempat jadi destinasi wisata. Tak hanya sebagai tempat transaksi jual beli, pasar tradisional juga bisa jadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Saya punya kebiasaan yang mungkin terbilang nyeleneh. Ketika sedang berada di luar kota, alih-alih berkunjung ke sejumlah tempat wisata favorit, saya justru memilih pasar tradisional untuk dikunjungi. Aktivitas yang terus saya lakukan sampai saat ini.

Perjalanan dari pasar ke pasar bagi saya memang cukup menyenangkan. Melihat aktivitas masyarakat di pusat ekonomi memang jadi hiburan tersendiri. Saya beruntung bisa datang ke beberapa pasar ikonik yang ada di kota-kota besar Indonesia. Surabaya, Semarang, Jogja, hingga Jakarta. Namun kali ini, saya ingin mencoba mengulas suasana yang ada di pasar tradisional Kota Surabaya.

Ketertarikan pertama saya terhadap pasar tradisional berawal di sekitar tahun 2012. Saat itu, saya lagi gandrung-gandrungnya berbisnis kecil-kecilan. Karena masih berstatus sebagai mahasiswa, semangat untuk mencari uang tambahan tentu sangat menggebu. Saya pun mencoba peruntungan untuk berbisnis jual beli kaos bola. Suatu hal yang juga jadi hobi dan kegemaran saya.

Tempat yang saya datangi untuk kulakan baju bola memang bukan pasar tradisional, melainkan pusat perbelanjaan yang cukup modern. Namanya Pusat Grosir Surabaya atau biasa disebut dengan PGS. Di sana banyak sekali barang yang bisa dikulak untuk kemudian dijual lagi. Lha wong namanya saja pusat grosir.

Saya sering wara-wiri ke PGS untuk membeli beberapa potong baju bola. Uniknya, di PGS kita bisa melakukan proses tawar menawar layaknya pasar tradisional. Meski dikemas secara modern, PGS memang terlihat seperti pasar tradisional dengan tambahan eskalator dan pendingin ruangan.

Letak PGS ini berada di seberang Pasar Turi Surabaya. Sebuah pasar legendaris yang dimiliki oleh Kota Surabaya. Sayangnya, waktu itu Pasar Turi sedang direnovasi. Jadi tak banyak yang bisa dieksplorasi di tempat tersebut. Saya sempat mendatangi lapak eks pedagang Pasar Turi lama. Lapak yang terdiri dari lorong-lorong sempit tersebut nampak sepi. Hanya ada satu dua pembeli yang terlihat wara-wiri.

Setelah Pasar Turi selesai direnovasi pada 2016 saya juga sempat mampir lagi. Agak miris ketika masuk ke sana. Hal yang pertama dirasakan adalah; suwung. Kawasan seluas itu hanya ada beberapa toko atau lapak yang buka. Pasar yang jadi ikon Kota Surabaya itu nampak sepi. Kalau melihat suasana seperti itu, pembeli pun enggan untuk mampir. Pekerjaan rumah besar bagi Pemkot Surabaya untuk membuat Pasar Turi jadi seperti dulu.

Njajan di Pasar Blauran

Di Surabaya, saya juga sempat masuk ke Pasar Blauran. Pasar ini letaknya cukup strategis. Berada di tengah kota dan cukup dekat dengan Tunjungan Plaza. Menurut saya, pasar Blauran identik dengan 3 hal. Yakni kuliner tradisional, jajanan, dan buku bekas.

Di sana kita bisa mencicipi aneka kuliner khas Surabaya. Mulai dari rujak cingur, tahu campur atau lontong mie. Namun saat berkunjung ke sana, anehnya, saya justru membeli nasi kuning. Kuliner yang bukan jadi daya tarik utama Kota Surabaya.

Pasar Blauran juga jadi tempat yang cocok untuk belanja jajanan kering atau makanan ringan. Di sana terdapat banyak penjual jajanan pasar, baik kering maupun basah. Cocok untuk dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan dari luar Surabaya. Harga yang cukup murah dipadu dengan pilihan yang beragam pastinya membuat wisatawan tergoda untuk mendatanginya.

Terakhir, Pasar Blauran juga jadi surga buku bekas di Surabaya. Jika tak bisa mendapatkan buku yang dicari di Jalan Semarang atau Kampoeng Ilmu Surabaya, Pasar Blauran ini bisa jadi alternatif. Banyak mahasiswa yang hilir mudik di bagian penjual buku bekas untuk mencari jackpot atau harta karun tersembunyi.

Surga Kuliner di Pasar Atom Surabaya

Di Surabaya, ada pasar yang cukup identik dengan berbagai kuliner lezatnya. Namanya adalah Pasar Atom Surabaya. Lokasinya juga ta seberapa jauh dari Pasar Turi maupun PGS. Nuansa Pecinan sangat terasa di pasar satu ini. Bangunan klasik yang dipadu dengan berbagai fasilitas modern membuat tempat ini juga layak untuk dikunjungi.

Di Pasar Atom ada beberapa kuliner legendaris yang layak dicoba. Di antaranya adalah Cakue Peneleh,  Lontong Mie Marlia, Bakwan Kapasari dan Nasi Cumi Pasar Atom. Harga dari deretan kuliner tersebut memang cukup mahal. Apalagi buat para backpacker. Namun tak ada salahnya dong untuk sesekali mencoba. Mumpung ada di sana.

Di Pasar Atom, saya sempat mencicipi Lontong Mie Nyonya Marlia yang konon katanya melegenda. Rasanya oke. Tapi jika disuruh memilih, saya lebih pilih makan Lontong Mie di pujasera dekat parkiran Pasar Atom. Selain harganya jauh lebih murah, porsi Lontong Mie di pujasera juga lebih banyak. Dan dari segi rasa, tak kalah dengan Lontong Mie Nyonya Marlia. Lagi-lagi ini masalah selera sih.

Keunikan lain di Pasar Atom ini adalah deretan penjual Bubur Madura di bagian lorong depan. Ada belasan penjual Bubur Madura di sana. Kita tinggal pilih mana yang terbaik menurut pandangan mata. Selain itu ada pula penjual Pecel Turi khas Surabaya. Kuliner satu ini sangat direkomendasikan untuk dicoba. Unik dan otentik.

Serba Murah di Dupak Grosir

Setelah PGS, Pasar Turi, Pasar Blauran dan Pasar Atom, saya juga sempat mengunjungi Dupak Grosir di Surabaya. Sama seperti PGS, Dupak Grosir ini merupakan pasar modern yang ada di Kota Surabaya. Bedanya, Dupak Grosir ini bukan tempat yang cocok buat orang yang mau kulakan. Barang yang dijual lebih lengkap PGS. Dupak Grosir ini lebih cocok buat end user alias pembeli yang dipakai untuk keperluan sendiri.

Ada dua bagian di Dupak Grosir ini. Bagian pertama berada di bagian gedung yang terlihat lebih modern. Bagian gedung ini (kalau tidak salah) terdiri dari 4 lantai. Pada lantai 1 dan 2, mayoritas adalah pedagang pakaian. Sedangkan lantai 3 kebanyakan diisi oleh penjaja makanan. Lantai 3 memang diperuntukkan untuk food court. Pilihan makanannya memang terbatas, tapi harganya murah-murah. Sementara itu untuk lantai 4 diisi oleh bursa mobil bekas. Buat yang hunting mobil bekas di Surabaya, lantai 4 Dupak Grosir ini bisa jadi pilihan.

Nah, bagian kedua dari Dupak Grosir ini berisi para penjual yang berada di luar. Tempatnya menyerupai basement. Untuk berada di tempat tersebut kita harus keluar lewat pintu di lantai 1. Pintunya memang tersembunyi jadi lebih baik tanya satpam atau petugas biar lebih jelas. Bagian ini nampak terlihat seperti pasar tadisional. Sempit. Pengap. Penuh pedagang.

Di bagian luar ini, penjualnya jauh lebih banyak dan beragam. Hampir 70% diisi oleh pedagang pakaian. Sisanya diisi oleh penjual jajanan, sepatu, perhiasan, hingga kebutuhan rumah tangga. Suasana pasar tradsional lebih terasa di bagian luar ini. Harganya murah dan masih bisa ditawar pula. Saya pernah membeli celana jeans, kaos, dan makanan ringan untuk oleh-oleh orang rumah. Tempat yang sangat ramah buat backpacker.

Masih banyak pasar atau pusat perbelanjaan tradisional yang bisa didatangi di Surabaya. Ada Pasar Kapasan, Pasar Genteng, atau bahkan TP pagi. Kalau berkesempatan datang ke Surabaya, tentu tak ada salahnya untuk berwisata dengan blusukan dari satu pasar ke pasar lainnya.

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Check Also

TP Pagi Surabaya

Hiruk Pikuk di TP Pagi Surabaya

Salah satu ciri terbesar dari sebuah kota Metropolitan adalah aktivitas warganya yang 24 jam non …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *