Home / Artikel / Dehumanisasi Perempuan Berkedok Hijab

Dehumanisasi Perempuan Berkedok Hijab

hijab
Source: Google Images

Padahal kenyataannya sasaran para pria predator brengsek itu tak selalu perempuan yang berpakaian terbuka, perempuan yang mengenakan hijab pun kerap jadi sasarannya.

LAHIR di dunia sebagai manusia berjenis kelamin perempuan rasanya sangat berat. Saya yang dilahirkan sebagai pria sangat merasakannya. Karena ada banyak sikap dehumanisasi sekaligus objektifikasi terhadap perempuan di tengah suburnya budaya patriarki. Bisa dibilang mereka yang menyuburkan dehumanisasi perempuan sangatlah jahat. Bahkan sikap itu tak hanya dilakukan oleh kaum pria, melainkan kaum perempuan juga banyak yang ikut mengamini.

Bukan bermaksud mendiskreditkan agama Islam dengan membuat judul yang menyudutkan Islam. Jujur saja, saya hanyalah pendosa yang masih terus berproses belajar agama Islam. Agama yang dipilihkan kepada saya karena dilahirkan dari rahim seorang ibu muslim. Sekali lagi, saya ini ingin berdiskusi dengan kalian para penyubur dehumanisasi perempuan di luar sana yang kerap memaksakan saudara seiman kalian secara keras agar mau menggunakan hijab.

Saya penasaran dengan konsep yang kalian pahami tentang beriman dan bertaqwa. Bukankah tiap personal yang beragama Islam memiliki tahap yang berbeda-beda dalam mengimani Islam. Mana mungkin setiap muslim di dunia ini bisa ideal sesuai dengan ajaran Islam yang saya percayai memang mewajibkan menutup aurat. Jadi alangkah buruknya kalau hobi kalian hanya menghakimi orang yang belum ideal tersebut.

Lantas kalian berhak menyalahkan dan melakukan dehumanisasi pada perempuan. Alih-alih berniat baik mengingatkan saudara seiman agar sadar untuk segera menggunakan hijab, justru kalian berusaha merendahkan saudara seiman kalian. Contoh-contoh dehumanisasi perempuan muslim sering kita semua lihat di media sosial maupun di dunia nyata.

hiijab
Source: Google Images

Saya beri contoh dua terlebih dahulu. Pertama, kalian pasti pernah melihat meme yang tersebar dengan gambar permen lolipop. Gambar pertama permen lolipop terbungkus rapi. Gambar kedua permen lolipop tanpa bungkus yang dikerubungi semut dan lalat. Kemudian diberi caption sok iye mengibaratkan permen lolipop itu perempuan berhijab dan tidak berhijab. Serendah itu kah sosok perempuan di mata kalian?

Oke, saya tahu kalian itu selalu berlindung di balik jargon ‘sekadar mengingatkan’. Tapi tolonglah akalnya dipakai berpikir secara jernih. Perempuan tetap perempuan yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sama halnya dengan pria. Saya rasa metode yang kalian pakai untuk mengingatkan itu justru membuat para perempuan itu risih dan enggan mendengarkan bacotan kalian.

hijab
Source: Google Images

Kedua, meme terbaru yang tersebar di media sosial ialah gambar penghapus yang setengah terbuka bungkusnya. Caption yang dituliskan juga mengasosiasikan dengan perempuan tak berhijab. Karena penghapus yang setengah terbuka itu lebih terlihat kotor, sedangkan yang terbungkus masih bersih. Kalian benar-benar banyak sekali akalnya untuk melakukan dehumanisasi perempuan. Urusan mengingatkan perempuan agar mau berhijab saja harus pakai perumpamaan dengan benda mati. Sungguh ironis.

Kenapa dua perumpamaan itu tidak ditujukan kepada pria. Kasih tahu kepada semua pria yang hobi jajan agar jangan lupa pakai alat kontrasepsi atau kondom. Karena apabila tidak memakai kondom, nasib kontol kalian seperti permen lolipop dan penghapus tanpa bungkus. Kontol kalian bisa terjangkit penyakit menular seksual. Bisa membusuk bau dikerubungi belatung.

Belum berhenti sampai di situ saja. Pengibaratan perempuan layaknya benda mati masih belum cukup. Para penyubur budaya patriarki juga sering mengibaratkan perempuan seperti ikan asin. Perempuan selalu jadi korban victim blaming ketika terjerat kasus pelecehan atau kekerasan seksual. Pria selalu diibaratkan sebagai kucing yang tak akan menolak ketika disodorkan ikan asin yang lezat. Maksud lezat itu sendiri, perempuan yang kerap menggunakan pakaian terbuka. Padahal kenyataannya sasaran para pria predator brengsek itu tak selalu perempuan yang berpakaian terbuka, perempuan yang mengenakan hijab pun kerap jadi sasarannya.

Lalu kalau urusan objektifikasi perempuan sepertinya tak perlu saya jelaskan panjang lebar. Media massa selalu melakukan objektifikasi perempuan. Entah di radio, televisi, koran, maupun media online. Sehingga muncul standar cantik di mata banyak orang berkat pemberitaan atau iklan aneka produk. Bahkan pemberitaan kerap mengglorifikasi kata cantik kepada sosok perempuan dengan mengesampingkan ide, pergerakan, prestasi, dan sebagainya yang telah dilakoninya. Sungguh pembodohan tiada tanding.

Tabik.

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

jurnalis

Jurnalis Tak Sekadar Mewartakan Peristiwa

ENTAH mengapa langkah hidup mengarahkan menjadi seorang jurnalis. Hari ini, terhitung menjadi pemburu berita baru …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *