Home / Artikel / Kepatuhan, Negara, Ilusi, dan Pemberontakan

Kepatuhan, Negara, Ilusi, dan Pemberontakan

pemberontakan
Source: Google Images

Sebagaimana yang telah kita tahu bahwa pemberontakan dianggap sebagai tindakan yang amoral. Masyarakat kebanyakan memandang sebagai tindakan yang tak matang, naïf, dan ingusan. Seperti kaum anarkis yang sering dikatakan sebagai anak muda pemberontak, yang nanti setelah memperoleh pengalaman dan kedewasaan akan melihat betapa urakannya idealisme masa muda mereka itu, lantas menjadi sama seperti orang lain.

Bagi saya pemberontakan sekecil apapun itu sangatlah penting. Pembangkangan dalam pandangan siapa saja pun yang pernah membaca sejarah, adalah nilai asli manusia. Lewat pembangkanganlah kemajuan dicapai. Kita coba mengulas bagaimana dekatnya kepatuhan terhadap Negara layaknya nadi di dalam tubuh.

Kekuasaan Negara diamini sebagai fakta kehidupan karena kita terbiasa melihat kenyataan bahwa aktivitas di luar itu akan membuat penyempal dihadapkan ke pengadilan. Kekuasaan dalam bentuk pengadilan, penjara, rudal, nuklir, dan lain sebagainya adalah fakta kasar yang harus kita terima tanpa mengindahkan apapun perasaan pribadi kita. Anggapan bahwa kita harus menerima otoritas sudah tertanam begitu jauh dalam kehidupan sosial politik kita sehingga sulit dipertanyakan. Gagasan untuk tunduk pada otoritas sudah terbenam di kepala kita, dan sulit untuk berpikir keluar darinya.

Menerima otoritas dalam konteks ini harus dibedakan dari menerima pendapat dan penilaian professional. Kaum anarkis tidak menolak bahwa ada orang yang pendapatnya lebih otoritatif dalam bidang-bidang tertentu. Dalam pengasuhan anak atau obat-obatan tertentu, kaum anarkis bisa melihat bahwa masuk akal kiranya untuk menerima otoritas para ahli. Ini pilihan atau pertimbangan moral yang didasarkan pada nalar.

Bahkan Mikhail Bakunin menjelaskan “apakah ini berarti saya menolak semua otoritas? Pemikiran demikian sama sekali tak terbesit pada diri saya. Untuk urusan sepatu saya patuh pada tukang sepatu; soal rumah, kanal, atau rel kereta, saya bertanya pada arsitek atau insinyur…. Tapi saya tidak mengizinkan tukang sepatu maupun arsitek itu… memaksakan otoritasnya pada saya. Saya menyimak pendapat mereka secara bebas dan segala hormat. Tetapi saya tidak pernah mutlak mempercayai siapapun. Kepercayaan mutlak macam itu akan memadamkan nalar dan kebebasan saya, bahkan memadamkan keberhasilan jerih payah saya; hal itu akan langsung mengubah saya menjadi budak belian, alat bagi hasrat dan kepentingan orang lain.”

Komentar Bakunin telah diujicoba pada sebuah eksperimen yang terkenal. Sejumlah orang dipilih secara acak menerima instruksi untuk mempertinggi sengatan listrik sampai ke tingkat menakutkan pada orang orang yang dijadikan kelinci percobaan. Orang-orang yang menerima instruksi ini tidak tahu bahwa sengatan listrik itu cuman pura-pura dan orang-orang yang disetrum itu sebenarnya adalah para aktor yang disewa untuk berakting menjerit kesakitan, sementara eksperimen yang sebenarnya justru ditunjukkan pada diri mereka sendiri: seberapa patuh mereka dalam menerima instruksi. Meskipun aktor yang berlagak disetrum ini sudah menjerit jerit kesakitan, banyak dari orang orang itu tetap mematuhi perintah untuk mempertinggi voltasenya.

Seklumit contoh kepatuhan yang ada beberapa abad yang lalu, bukan berarti menuhankan seorang Mikhail Bakunin. Di sini saya hanya mencontohkan betapa ngerinya kepatuhan yang membabi buta. contoh yang lain bisa kalian lihat didalam realitas sosial masa sekarang yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kepatuhan yang ada sekarang hanyalah sebuah ilusi. Alih-alih mendapatkan keamanan dalam hidup dan kenikmatan hidup di bawah Negara, namun yang ada sebaliknya.

Kepatuhan sangat dibutuhkan oleh mereka yang ada di kursi besar sana agar mereka menginginkan masyarakat yang bisa disetir olehnya dan menjadi budak belian penjilat mereka. Pemberontakan tak melulu bebicara tentang pengeboman kantor ataupun pos polisi, percuma jika kalian mengaku bebas tapi tidak bisa sepenuhnya mandiri. Pemberontakan bisa dimulai dari lingkungan terkecil semisal dari keluarga. mulailah mandiri, mulailah pemberontakan dengan memotong “kebiasaan lama” di mana yang tua selalu benar dan yang kecil selalu salah.

Mulailah mandiri tidak begantung kepada seseorang ataupun instansi, bergantung hanya akan menimbulkan penindasan dan perbudakan bentuk baru. Hidup bebas bukan berarti liar layaknya barbarisme, kebebasan yang ada dalam sebuah makna kehidupan, dan ini adalah kebebasan untuk menjadi manusia yang berakal dan berfikir, bukan terkurung dan terjebak dalam sebuah konsep ilusi yang telah tercipta.salah satu ilusi itu ialah kepatuhan.

Komentar

About Rahvvana Samahita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *