Home / Artikel / Kritik Tahunan Atas Larangan Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Kritik Tahunan Atas Larangan Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Source: Google Images

Ada beberapa pihak berikan fatwa bahwa ada seorang mengucapkan selamat natal itu haram. Entah atas dasar apa fatwa tersebut dikeluarkan.

Bukanlah persoalan baru ketika para fundamentalis agama menebar sentimen sektarian terhadap agama lainnya. Maksudnya ialah ketika agama lain merayakan hari besarnya, maka agama kita misalnya malah melarang untuk bersama-sama merayakannya dengan alasan menggoyang tauhid kita. Hal semacam ini hampir setiap tahun terjadi. Lalu setelahnya akan diikuti sentimen lainnya yang menyatakan umat muslim haram merayakan tahun baru masehi? Apa maksud mereka? Apa pantas bagi mereka untuk mengkafirkan orang yang memberi ucapan selamat natal dan merayakan tahun baru masehi?

Sebenarnya ini semua hanyalah masalah kultur, bukan syari’at. Banyak orang yang tidak bisa memaknai toleransi karena mereka hidup dalam alam fundamentalisme Agama. Seandainya mereka mengerti bahwa persoalan kultur bukanlah persoalan syari’at, maka tidak akan ada fundamentalisme semacam ini. Ada beberapa pihak memberikan fatwa kalau mengucapkan selamat natal itu haram. Entah atas dasar apa fatwa tersebut dikeluarkan. Sedangkan kita hanya mengucapkan, bukan merayakannya.

Saya masih ingat kata Gus Dur beberapa tahun silam, “kalau perlu kita ikut duduk bersama mereka yang kristiani untuk sekadar menghormati mereka”. Lalu apa salahnya? Apa karena ada ayat Alqur’an yang menyebutkan bahwa jika kita mengikuti mereka, maka kita termasuk bagian dari mereka? Kita tidak mengikuti, tetapi kita menghormati. Dan Inilah asas dari toleransi! Jangan rusak ukhuwal al insaniyah hanya karena saling mengkafirkan. Legitimasi kafir hanyalah milik Allah SWT, bukan milik aku, engkau, kita atau kalian.

Tahun masehi pertama kali di tetapkan oleh Paus Gregorius V (kalau salah mohon koreksi) pada abad kegelapan Eropa sebagai reformasi atas Kalender Julian yang sebelumnya tidak terdapat tahun kabisat. Kalender tersebut ditetapkan berdasarkan perhitungan perputaran bumi atas matahari. Berbeda dengan kalender hijriyah yang mendasarkan perhitungan atas perputaran bulan terhadap bumi. Jadi, perbedaan kalender bukanlah sebuah perbedaan syari’ah, namun lagi-lagi hanyalah persoalan kultur pengetahuan.

Bagi semua manusia, kita mempunyai kehendak bebas untuk menentukan memakai kalender apapun sesuai dengan keinginan dan kepentingannya. Perbedaan penetapan waktu dimulainya pemberlakuan kalender tersebut juga hanya berdasarkan sebuah peristiwa-peristiwa manusiawi, bukan peristiwa adikodrati. Misalnya, kalender hijriyah dimulai perhitungannya sejak Nabi SAW hijrah bersama kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah. Ini adalah sebuah peristiwa manusiawi biasa yang kebetulan dianggap penting oleh kaum muslim. Begitu juga dengan penetapan kalender Gregorian yg kebetulan bukanlah peristiwa adikodrati juga.

Lalu mengapa kaum muslim tak boleh merayakan tahun baru masehi?

Mereka – kaum fundamentalis agama – berpendapat bahwa perayaan tahun baru masehi dan persoalan fashion-nya merupakan produk dari agama pagan majusi, Yahudi, dan Kristiani. Mereka menilai musik adalah bagian dari agama Yahudi, kembang api bagian dari agama Majusi, dan yg lainnya. Sepanjang yang saya ketahui, Islam pun tidak mengharamkan musik sehingga saat Nabi SAW sampai di Madinah pun, bernyanyi Thola’al Badru pun bukan sesuatu yg diharamkan. Selain itu terdapat kembang api yang menurut kaum fundamentalis merupakan produk agama Majusi. Rupanya mereka perlu mempelajari sejarah secara mendalam dulu. Kembang api merupakan produk kebudayaan China yang sudah ada 2.500 tahun yg lalu, kawan!

Jika kaum fundamentalis berpendapat mengapa tahun baru masehi sebagai produk agama Kristen, maka mereka lupa jika persoalan kalender merupakan persoalan kultur, bukanlah syari’at. Maksud Allah SWT dalam Alqur’an yg menyatakan barang siapa yang menyerupai suatu kaum, di sini kita mendapati maksudnya – secara sederhana – merupakan serupa dalam hal syari’atnya, bukan kebudayaannya. Kebudayaan sendiri bukan milik sebuah agama, agama dan kebudayaan sendiri milik sebuah peradaban sehingga kultur apapun tak bisa diklaim milik agama apapun. Misalnya, peci milik kaum muslim. Padahal kenyataannya, peci merupakan produk kebudayaan China.

Disinilah kita harus menyikapi segalanya dengan kritis. Jangan hanya mengandalkan klaim kebenaran saja sehingga para fundamentalis menganggap dirinya paling benar dan berhak mengkafirkan orang lain. Tanpa memandang toleransi dan mau menang sendiri, ia tak lebih dari kumpulan egois yang diciptakan sebagai pelengkap ciptaan-Nya. Seharusnya mereka sadar bahwa mereka hidup berdampingan dengan yang lainnya. Di sinilah kita membutuhkan toleransi yang kuat. Hemat pendapat saya, jangan mau dipecah oleh kapitalis yang menginginkan kita buta akan adanya eksploitasi yang mengatasnamakan agama.

Ingat, musuh kita bukanlah umat muslim maupun umat kristiani, tapi kapitalisme. Di sinilah, para fundamentalis yang menelan mentah-mentah klaim kebenaran tidak melihat titik permasalahannya. Mereka harus memahami bahwa Islam maupun Kristen muncul sebagai antitesis dari masyarakat kapitalisme Mekkah dan masyarakat Feodalisme Romawi di Palestina. Maka, sudah sepatutnya umat muslim dan umat kristiani bersatu untuk melawan hal tersebut.

Selamat natal dan tahun baru 2020!

Komentar

About Yudhi Tutupbusi

Check Also

festival ribut

5 Festival Ribut Andalan Warganet Indonesia

Hobinya warganet Indonesia itu ribut, bahkan selalu saja ada keributan yang layak dijadikan festival ribut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *