Home / Artikel / Film NKCTHI: Bersedih Itu Perlu

Film NKCTHI: Bersedih Itu Perlu

Source: Google Images

Animo penonton film NKCTHI tak bisa lepas dari larisnya buku NKCTHI.

FILM arahan Angga Dwi Sasongko berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) menyedot antusias yang lumayan bagus di awal tahun 2020. Di hari ke-3 penayangannya saja mampu meraup 441 ribu penonton (tayang sejak 2 Januari 2020). Film yang mengadaptasi buku kumpulan quote dengan judul yang sama yakni NKCTHI bagi saya telah dieksekusi secara apik. Dari segi penulisan skrip dan akting para cast-nya.

Namun, secara luas pengambilan tema di film NKCTHI ini bagi saya sangat banal. Formula film dengan tema keluarga sangat jamak ditemukan dari masa ke masa. Tak bisa dikatakan sebagai film yang sangat istimewa. Karena konflik yang diangkat dan pesan yang hendak disampaikan bukan sesuatu yang benar-benar baru. Apabila saya ingin memberi nilai 7/10 saja. Isu yang disorot juga sangat urban, masalah kalangan kelas menengah. 

Namun, jujur saja ketika hendak menonton film NKCTHI tak ada ekspektasi berlebih. Sebelumnya juga belum pernah membaca buku NKCTHI secara utuh. Pun isi ceritanya tak terlalu relate dengan kehidupan sehari-hari saya. Tapi, saya berusaha untuk ikut tenggelam dengan masalah keluarga utuh terdiri atas bapak (Donny Damara/Oka Antara), ibu (Susan Bachtiar/Niken Anjani), dan tiga anak bernama Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara), dan Awan (Rachel Amanda). 

Sepanjang film pun air mata kerap jatuh ke pipi. Akting mereka begitu menjiwai. Hingga akhir film, saya hanya menganggap film NKCTHI bisa dianggap sebagai pengingat. Apalagi saya juga seorang anak sulung dan kelak semoga menjadi seorang ayah. Masalah yang mereka hadapi juga tentu akan saya alami di kemudian hari. Saya merangkum isi film itu dengan satu kalimat yakni bersedih itu perlu. Menangis bukan tanda lemah, menangis adalah proses manusiawi. Jangan sampai pikiran positif menjadi racun untuk diri sendiri. Keraguan dan rasa putus asa adalah pil pahit yang sangat lumrah ditelan. Karena masa depan penuh dengan kemisteriusan. 

Film NKCTHI juga kental dengan maskulinitas. Alih-alih membagi beban hidup dengan anggota keluarga, sosok bapak dan anak sulung pria itu memendam sendiri segala kesedihannya, bahkan kerap menyalahkan diri sendiri atas segala masalah yang mendera. Padahal apabila meminjam celetukan seorang sopir Gojek perempuan kepada Abah di film Keluarga Cemara, ia mengatakan kalau menikah itu berdua, tidak sendirian. Jadi masalahnya harus dibagi berdua, berjuangnya juga bersama-sama. Jangan merasa paling mampu mengatasi masalah sendiri. Semua masalah seharusnya ditanggung dan diselesaikan satu per satu dengan pasangan hidup. Pun anak yang sudah beranjak dewasa seharusnya juga sudah mampu diajak berdiskusi mencari solusi untuk setiap masalah yang ada di dalam internal keluarga. 

Bahkan, apabila dimampatkan lagi intisari dari pola didik orang tua di film NKCTHI ini sangat mencerminkan sosok para orang tua lumayan tajir di Asia. Lebih merasa berhak bahkan posesif mengatur jalan hidup anak-anaknya. Dan pasti syarat dengan budaya patriarki. Bagi saya yang hanya lahir dari keluarga biasa-biasa saja, tentu banyak celah untuk mencari salah. Tapi itu buang-buang tenaga saja. Lebih bagi kalian berniat untuk menonton film ini, segeralah menonton dan menikmatinya. Meski terkadang terganggu dengan kutipan-kutipan normatif serta tetap saja mempertahankan status quo dalam menjalani kehidupan. 

Animo penonton film NKCTHI tak bisa lepas dari larisnya buku NKCTHI. Pun didukung beberapa artist seperti Ardhito Pramono, Umay Shahab, Sivia Azizah, dan Isyana Sarasvati yang hanya muncul di awal dan akhir film. Lalu music scoring yang porsinya pas. Ditambah lagi soundtrack dari musisi kekinian seperti Hindia, Kunto Aji, Sisir Tanah, Chiki Fawzi, Arah, dan dua musisi yang sudah sebut di atas. 

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *