Home / Artikel / Mari Gotong Royong Lawan Covid-19

Mari Gotong Royong Lawan Covid-19

covid-19
Source: Google Images

CAMKAN selalu bahwa rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Hentikan debat kusir sesama rakyat di tengah chaos penyebaran Covid-19. Mari bersama-sama mendesak kepada pemerintah agar membuat kebijakan strategis yang win-win solution. Apabila sudah tak bisa diharapkan lagi, kunci utama kita hanyalah bersolidaritas dan bergotong royong. Meski dikotomi keas sosial si kaya dan si miskin, namun tetap harus saling bergandengan tangan. Sebab, harus ada jalan tengah keluar dari lingkaran setan wabah Covid-19.

Karena ketika saya melihat di media sosial, banyak orang mendesak untuk segera lockdown. Artinya semua aktivitas di luar rumah dihentikan sementara. Kalau ditelisik, ide lockdown menggaung dari mereka yang kelas menengah ke atas saja. Mereka yang panic buying beli sembako, masker, dan pembersih tangan itu. Mereka merasa itu hanya solusi utama. Lalu tak sedikit dari mereka yang membodoh-bodohkan orang lain karena tidak mau swakarantina di rumah.

Kepekaan rerata kelas menengah itu nihil. Mereka tak pikirkan bagaimana nasib para pekerja upah harian seperti ojek, pedagang kaki lima, sol sepatu, dan masih banyak lagi. Mereka tak pikirkan bagaimana nasib para tunawisma. Jaminan kesehatan bagi mereka bagaimana?. Belum lagi, ketika kalian sok-sokan memaksa lockdown, mereka yang pekerja upah harian itu kerap dihantui setan kredit alias cicilan bulanan. Siapa yang menanggung dan menjamin mereka?. Sementara di sisi lain, pemerintah belum berani untuk lockdown karena takut ekonomi semakin melemah. Jadi nasib si miskin memang selalu sengsara.

Peristiwa ini mengingatkan saya terhadap film Korea Selatan berjudul Parasite. Film yang menjuarai Oscar tersebut mengangkat kesenjangan sosial. Dikotomi kelas yakni si kaya dan si miskin. Ada salah satu scene yang sangat menyentil, ketika pemeran bapak miskin memuji keluarga kaya yang memperkerjakannya. Si bapak miskin itu berkata kalau si keluarga kaya itu baik. Lalu si istri bapak miskin itu membantah, kalau keluarga kaya itu baik karena kaya punya banyak harta benda. “Kalau aku dilahirkan jadi orang kaya, aku juga bisa bersikap baik seperti mereka,” kata si ibu miskin itu kepada suaminya.

Sindiran di film itu memang sebuah realita. Seolah-olah si miskin itu susah diatur, biang kerok dari semua permasalahan. Padahal kemiskinan itu sistemik, tidak disebabkan satu-dua faktor saja. Jurang kemiskinan itu kerap tak berujung. Tak semua orang miskin bisa terentaskan dengan hanya bermodal jargon kerja kerja kerja. Karena itulah, saya geram apabila nasib nahas yang dialami orang miskin ini malah jadi bulan-bulanan mereka yang merasa berpendidikan dan berharta benda melimpah. Pakailah hati nurani kalian sedikit saja.

Jadi, bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Tak bisa hanya mengandalkan sikap pemerintah yang terlihat terlambat melakukan upaya pencegahan Covid-19 yang sudah tersebar sejak Januari 2020 lalu. Kalian sendiri pasti sudah tahu dan kerap ingin mengumpat melihat kondisi sekarang ini yang terkesan mengawatirkan. Apalagi keterbukaan pemerintah terhadap data Covid-19 sangat terbatas. Sehingga, informasi yang sampai ke masyarakat setengah-setengah. Kesannya serba nanggung penanganannya. Jadi tetap upayakan kondisi stabil, jangan terlalu panik dan cemas karena bisa menurunkan sistem imunitas.

Upayakan juga selalu menjaga kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat. Mulai bersolidaritaslah semampu kalian. Bisa lewat donasi daring yang digalang para selebriti. Bisa juga dengan bersolidaritas mulai dari tingkat RT tempat kalian berdomisili. Awali dengan mengajak warga satu RT untuk kolektif dana membeli masker dan pembersih tangan. Lalu petakan tetangga kiri dan kanan kalian yang pekerja upah harian. Bantu logistik serta material kepada mereka agar tidak keluar rumah. Sehingga penting antarwarga itu mengingatkan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

Saat ini pun sudah ramai aksi solidaritas di berbagai kota. Mereka membagikan masker dan pembersih tangan secara gratis. Lalu membelikan alat pelindung diri (APD) kepada para petugas kesehatan di rumah sakit. Langkah solidaritas atau gotong royong melawan serta mencegah Covid-19 ini harus terus digaungkan. Semoga lekas reda penyebaran Covid-19 dan lekas ditemukan vaksinnya. Sekali lagi jaga kesehatan kalian. Kini sudah memasuki musim pancaroba, tubuh rentan terserang penyakit kalau imun lemah.

Saya pun ingin meminjam penggalan puisi di lagu Morgue Vanguard yang berjudul Kontra Muerta untuk menutup tulisan ini.

Rangkul kawan kalian kanan-kiri. Gelap pasti kan datang, tapi tidak hari ini!

Komentar

About Bhagas Dani

Ojo dumeh. Pseudo-analis sok asyik.

Check Also

panic buying

Manusia Panic Buying

Source: Google Images Kebrengsekan manusia makin terlihat pemerintah enggan hadir ketika adanya panic buying dilakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *