Home / Hiburan / Saatnya Zach LaVine Bersinar Layaknya Michael Jordan di Chicago Bulls

Saatnya Zach LaVine Bersinar Layaknya Michael Jordan di Chicago Bulls

zach lavine

Mungkin tak ada yang menyangka, Zach LaVine mampu jadi bintang utama Chicago Bulls. Setelah dijadikan “tumbal” oleh Minnesota Timberwolves untuk mendapatkan Jimmy Butler pada 2017 silam, LaVine bersinar terang di Chicago. Jika terus konsisten, maka satu tempat di skuat All Star NBA bukan tidak mungkin jadi milik pebasket yang identik dengan nomor punggung 8 tersebut.

Zach LaVine memulai karirnya di Minnesota Timberwolves pada 2016. Dia dipilih di urutan ke-13 dalam NBA Draft 2016. Dipilih di luar 10 teratas, membuat ekpektasi terhadapnya tak terlalu besar. Nasibnya berbeda dengan Karl Anthony Towns yang dipilih pertama oleh Wolves pada NBA Draft 2015 dan langsung jadi starter di musim perdananya. LaVine lebih sering memulai dari bangku cadangan.

Di awal karirnya, permainan LaVine tak begitu menonjol di kalangan pencinta NBA. Namanya mencuat dan dikenal luas karena penampilan luar biasanya pada NBA Slam Dunk Contest 2015 dan 2016. Dia berhasil jadi dua kali juara berturut-turut di ajang tersebut.

Di masa rookie atau tahun pertamanya, LaVine mencatatkan statistik tak terlalu buruk untuk pemain yang lebih sering tampil dari bangku cadangan. Dia tampil di 73 pertandingan dengan rata-rata 24 menit penampilan di lapangan, serta mencatatkan rata-rata 10 point, 2 rebound, dan 3 assist per laga. Cukup baik, namun tak istimewa. Catatan itu sendiri menempatkan Zach LaVine dalam All Rookie Second Team (2015).

Di 2 musim selanjutnya, peforma Zach LaVine dari segi statistik terus menanjak. Pada musim 2015/2016 Zach mencatatkan 14 point, 2 rebound, dan 3 assist per laga. Semusim setelahnya, dia membukukan 18 point, 3 rebound, dan 3 assist.

Sayangnya, penampilan yang terus menanjak dari waktu ke waktu tak membuat manajemen Minnesota Timberwolves terkesan. Mungkin karena kurang sabar, Wolves pun “mengirim” Zach LaVine bersama Kriss Dunn ke Chicago Bulls untuk mendapatkan Jimmy Butler. Pertukaran atau trade inilah yang jadi tolak balik karir Zach LaVine di NBA.

Di musim perdananya bersama Chicago pada 2017/2108, Zach memang tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, dia mengalami cedera ACL yang membuatnya harus menepi lama. Dia hanya bisa bermain di 24 laga dan mencatatkan 16 point, hampir 4 rebound,dan 3 asisst. Semusim setelahnya, LaVine mulai menunjukkan kapasitasnya. Di musim keduanya ini LaVine mencatatkan 23.7 point, 4.5 rebound, dan 4.7 asisst per laga.

Ledakan peforma Zach LaVine terjadi pada musim 2109/2020. LaVine menunjukkan bahwa dirinya layak menyandang gelar All Star. Bagaimana tidak, di musim 2019/2020 LaVine menorehkan statistik yang luar biasa. Yakni 25.5 point per laga. Ini adalah catatan terbaik sepanjang karirnya di NBA.

Berkat penampilan ciamiknya, LaVine bahkan sempat masuk dalam bursa NBA All Star 2020. Sayangnya, LaVine tak terpilih di pergeleran tahunan tersebut. Meski tak terpilih dalam All Star, LaVine tetap mendapatkan pujian dari banyak pihak. Andai saja penampilan Chicago bagus di Liga, LaVine pastinya bisa masuk ke All Star.

Peformanya pada musim 2019/2020 membuktikan bahwa LaVine tak cuma jago nge-dunk. Lebih dari itu, LaVine mampu mengemban tugas sebagai top skor tim. Dia jadi pemain paling mencuat di tim Chicago Bulls yang didominasi oleh anak muda.

Satu hal yang cukup menonjol dari LaVine sekarang ini adalah tembakan 3 angkanya. Di musim 2019/2020, LaVine sangat sering membuat tembakan 3 angka. Persentase tembakan angkanya pun juga bagus. Per laga, LaVine rata-rata membuat 8 tembakan tiga angka. LaVine bahkan pernah mencatatkan rekor dengan membuat 13 tembakan tiga angka saat Chicago berhadapan dengan Charlotte Hornets. Torehan yang membuatnya bersanding dengan penembak jitu terbaik di NBA seperti Stephen Curry dan Klay Thompson. Karena torehannya itu, Zach bahkan sempat diundang untuk ikut NBA 3 Point Contest.

LaVine tentu masih banyak waktu dan kesempatan untuk jadi salah satu All Star NBA. Usianya yang masih cukup muda membuat lulusan UCLA ini bisa terus menunjukkan sinarnya. Bukan tidak mungkin jika LaVine jadi Franchise Player Chicago Bulls seperti Derrick Rose dan pebasket terbaik sepanjang sejarah, Michael Jordan.

Cukup berat memang kalau memberi label LaVine sebagai penerus Jordan di Chicago. Apa yang sudah dilakukan Jordan di Chicago sangat sulit disamai oleh pebasket lain. Jangankan LaVine, sosok sehebat Kobe Bryant atau LeBron James pun bakal kesulitan.

Tapi satu hal yang pasti, LaVine sudah berada di trek yang benar. Untuk sekarang ini, Zach tak perlu muluk-muluk untuk mencoba memberikan 6 gelar NBA kepada Bulls seperti yang sudah dilakukan Jordan. Membawa timnya ke Playoff saja nampaknya sudah cukup bagi LaVine untuk makin dicintai oleh para pendukung setia Chicago Bulls.

Komentar

About Mahfudin Akbar

Penggila sportainment yang suka balapan dengan bus dan truk tronton di jalur Pantura.

Check Also

la lakers

Nasib dan Masa Depan LA Lakers di Tangan LeBron James

Usia LeBron James memang sudah tak muda lagi. Lalu bagaimana nasib LA Lakers?. James masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *