Home / Artikel / Komunike Ruang Bebas Uang Bojonegoro

Komunike Ruang Bebas Uang Bojonegoro

Source: Ruang Bebas Uang Bojonegoro

Disclaimer: Redaksi kami menerima komunike yang ditulis oleh kawan-kawan Ruang Bebas Uang Bojonegoro pada 19 April 2020. Bagi redaksi kami, komunike ini layak ditayangkan.

Kemarin malam, persis di persimpangan Jalan Untung Suropati, pukul 9 malam tepat. Anda melihat kami dengan mata penuh dengan kesinisan.  Kami hanya duduk, di pinggir jalan menunggu waktu untuk menjalankan aksi simbolik. Seluruh wajah sengaja kami tutupi agar kalian hanya bisa memandangi lirikan mata kami. Apakah anda takut untuk kami jarah? Apakah anda percaya dengan apa yang dikatakan aparat keparat beberapa waktu lalu tentang isu penjarahan, sehingga anda ketakutan sendiri? Kami ucapkan selamat! Selamat kepada anda yang dibohongi lagi oleh sebuah perangkat Negara ini.

Kami siapa? Kami adalah sekumpulan individu berlatar belakang berbeda-beda. Kami Anarkis? JELAS KAMI ADALAH ANARKIS!. Kami memang anarkis, tapi kami memilih aksi lebih ke arah anti-kekerasan. Di mana kami sadar dan sepakat bahwa hidup ini bukan persaingan, namun hidup ini adalah untuk saling memberdayakan setiap manusia.  Kami mengira bahwa terlalu bodoh untuk menganggap bahwa hidup ini persaingan. Sebab ya sebuah konsep semenjak kecil bahkan semenjak kita menginjak bangku SD selalu dikatakan bahwa HIDUP ADALAH SEBUAH PERSAINGAN.

Kami memikirkan bahwa konsep tersebut tak lebih sama dengan konsep hidup para hewan atau lebih mudahnya bisa disebut dengan Hukum Rimba. Di mana yang kuat adalah yang akan bertahan. Lalu, apabila kita berprinsip hidup “hidup adalah persaingan” lalu apa bedanya kita dengan hewan?. Kami menolak keras prinsip bodoh itu.

Sebelumnya, ketika kami mengeluarkan sebuah komunike seperti ini, anda pasti akan membantah atau mengira kami adalah “sekumpulan orang putus asa dengan realita”. Simpan bualanmu, justru kami melawan realita bodoh yang selalu diamini oleh setiap generasi. Kami hanya ingin mematahkan bahwa hidup ini sebenarnya saling memberdayakan saling membantu satu sama lain tanpa sekat dan tanpa adanya kelas. Kehadiran kami jelas bahwa kami menolak penghambaan individu terhadap uang, yang mana hal ini terjadi pada abad ini.

Kami ingin mengubah realita yang ada sekarang, di mana setiap orang berkata bahwa realita itu kejam. Menurut mereka kejam, karena secara tidak sadar anda selalu menghamba kepada uang. Sehingga anda saling sikut-menyikut hanya untuk masalah pekerjaan bahkan saling membunuh hanya gara-gara uang. Mengapa tidak kita ubah saja hidup ini menjadi semakin indah? Dengan memberdayakan satu dengan yang lain. Hidup berdampingan saling bantu membantu tanpa persaingan, megapa tidak?.

Aksi kami adalah aksi simbolik, membalikkan asumsi anda semua. Mematahkan argumen bodoh aparat bahwa mereka akan membentuk hantu baru yang dibuat untuk mengadu domba antara kita. Lihatlah sendiri apakah Negara hadir untukmu ketika pandemi ini terjadi?. Apakah anda mempunyai jaminan bahwa besok bisa makan apa?. Bagaimana dengan pekerjaan anda? Bagaimana kalau anda di PHK nanti?.

Biar kami jelaskan secara singkat, bahwa sebenarnya NEGARA SAMA SEKALI TIDAK PEDULI DENGAN KEHIDUPANMU. Bahkan sebuah ayat di dalam undang-undang dasar kita saja yang berbunyi kurang lebih bahwa “Fakir miskin dipelihara Negara”. Sekarang, apa buktinya?. Ya itu hanyalah omong kosong. Anda sudah sadar bahwa kehadiran Negara hanya sebuah kesia-siaan, maka saatnya kita saling bantu, rakyat bantu rakyat.

No Border, No Class!!

“Satu bumi, Saling bagi. Semua gratis layaknya udara.“ – Komunike 1 Ruang Bebas Uang Bojonegoro

*Terimakasih kami haturkan kepada seluruh individu yang telah bergabung atau membantu kami dalam hal tenaga, uang donasi ataupun barang agar lapakan kami tetap berlanjut dan agar dapur kami selalu mengepul. Semuanya akan kami kembalikan dalam bentuk memberdayakan setiap manusia yang mampir ke lapakan kami. Panjang umur perjuangan! Panjang Umur Hal-Hal Baik!

Komentar

About Redaksi

Check Also

security culture

Mengenal dan Menerapkan Security Culture

Tapi perlu juga dipahami bahwa security culture bukanlah tindakan pengecut dan aksi perlawanan bukanlah ajang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *