Home / Artikel / Nestapa Perantau di Tengah Wabah Covid-19

Nestapa Perantau di Tengah Wabah Covid-19

perantau
Source: Google Images

Dengan adanya situasi saat ini, bagi para perantau sepertinya akan memberikan banyak prespektif baru. Sehingga ketika situasi sudah mulai normal kembali ada beberapa hal yang perlu para perantau siapkan.

Semenjak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Ibu Kota Negara Indonesia sekaligus jantung perekonomian Indonesia ini mulai melemah. Hal ini menyebabkan beberapa sektor industri juga harus menekan bujet operasional dengan berbagai cara. Ada yang merumahkan beberapa karyawannya. Ada yang membatasi jam masuk kerja harian. Bahkan, ada yang melakukan PHK kepada karyawannya.

Hal ini juga berdampak dengan para pekerja yang sedang merantau ke Jakarta. Setiap hari mungkin mereka akan bertanya-tanya, sampai kapan situasi dan kondisi saat ini akan berakhir?. Kapan kami bisa bekerja normal seperti biasanya?. Dan, kapan kiranya kami bisa bertemu atau berjumpa kembali dengan keluarga kami di kampung halaman?.

Beberapa perantau yang memilih stay di Jakarta sepertinya sudah memikirkan secara matang akan pilihannya tersebut. Sebab di saat seperti ini menekan untuk bertemu dengan keluarga di rumah dan bisa bekerja dari rumah adalah pilihan yang sangat sulit. Meskipun di awal mungkin sudah diminta untuk kembali kerumah, akan tetapi memikirkan kesehatan keluarga dirumah lebih penting daripada harus menanggung akibat yang akan lebih lama atau lebih parah lagi.

Di tengah situasi yang tidak menentu saat ini, kekhawatiran pun mulai menghantui para perantau. Biaya-biaya tak terduga tiba-tiba muncul dikarenakan situasi yang mengharuskan mereka lebih aman dan sehat. Kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan maka harus dilakukan demi menunjang kehidupan lebih lanjut. Menurunnya omzet kantor, bayang-bayang akan PHK, ketersediaan lapangan kerja yang sangat kecil di kala pandemi. Juga berpikir bagaimana cara untuk menghidupi keluarga yang sedang ikut merantau menjadi bagian kekhawatiran para perantau saat ini.

Beberapa perantau yang kantornya masih beroperasi mungkin sangat bersyukur karena dengan masih beroperasinya kantor. Artinya ada sedikit harapan untuk dapat bertahan lebih lama lagi di situasi saat ini. Bagi perantau yang kantornya mungkin sedikit demi sedikit mulai mengurangi beban operasional pastinya akan mengandalkan skill bertahan hidup mereka dengan berbagai cara, ada yang mulai berhemat, ada yang mulai memasak sendiri.

Bagi para perantau yang kantornya menggunakan sistem Work From Home (WFH) mungkin akan sedikit memikirkan bagaimana cara untuk bekerja. Karena selama masa normal mereka tak perlu lagi kebingungan untuk melakukan akses internet selama bekerja. Sehingga kebutuhan akan data internet selama sebulan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Tetapi ketika masa pandemi saat ini, beberapa dari perantau memilih melakukan cara-cara untuk survive dalam bekerja selama di rumah/kos masing-masing yang tidak ditunjang dengan akses internet atau wifi. karena apabila tidak melakukan cara-cara untuk bisa berhemat dalam menggunakan data internet, bisa-bisa data internet yang sedianya untuk sebulan akan habis dalam seminggu pemakaian.

Masa pandemi saat ini memang selain kekuatan akan financial yang sangat dibutuhkan oleh para perantau adalah kekuatan emotional. Sejatinya manusia sebagai makhluk sosial juga butuh akan asupan energi-energi positif yang membuat mereka tidak merasa tertekan dalam situasi saat ini. Dukungan-dukungan yang muncul mulai dari keluarga, kekasih, teman sampai dengan kerabat dekat sangat membantu secara psikis para perantau. Karena mungkin kita tidak tahu bagaimana rasanya tinggal dan hidup sendiri jauh dari keluarga serta harus berjuang untuk tetap hidup, baik secara fisik maupun batin.

Dengan adanya situasi saat ini, bagi para perantau sepertinya akan memberikan banyak prespektif baru. Sehingga ketika situasi sudah mulai normal kembali ada beberapa hal yang perlu para perantau siapkan. Di antaranya kemampuan mengatur keuangan dan menyediakan dana darurat sedari dini. Pun kemampuan dalam mengatur biaya operasional untuk menunjang kehidupan selama di perantauan. Serta kemampuan dalam mengatur kesehatan mental ketika nantinya ada situasi atau kondisi yang mirip seperti saat ini.

Bagi perantau yang membaca tulisan ini, khususnya yang sedang merantau di Jakarta. Mari kita saling menguatkan dengan memberikan pesan-pesan dan energi-energi positif sesama. Saling membantu saling memberikan dukungan satu sama lain. Sehingga selain bebas dari wabah Covid-19 saat ini, kita juga bisa bebas dalam berkarya maupun bekerja. Semoga selalu dalam lindungan-Nya dan sehat selalu kawan-kawan yang ada di perantauan.

Komentar

About Atub Candra

Check Also

panic buying

Manusia Panic Buying

Source: Google Images Kebrengsekan manusia makin terlihat pemerintah enggan hadir ketika adanya panic buying dilakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *