Home / Artikel / Rindu Ragam Aktivitas Sebelum Pandemi Terjadi

Rindu Ragam Aktivitas Sebelum Pandemi Terjadi

Source: maeda.mlg

Yang paling membuat saya kangen dan setiap saya mengingatnya selalu membuat saya mengumpat untuk pandemi ini adalah tidak dapat duit.

Tepat di tanggal 16 Mei 2020, memasuki minggu terakhir bulan ramadan tahun ini. Tidak ada pasar ramadan seperti biasanya, tidak ada kopi pasca tarawih, juga tak ada mudik. Meski saya tidak menjalankan mudik, saya cukup prihatin dengan kawan-kawan yang sampai hari ini masih ada di Malang. Ini semua berawal dari Covid-19 yang tak kunjung membaik (atau malah dibuat tidak untuk membaik?).

Saya masih ingat betul ramadan tahun lalu, ketika saya menjaga kedai saya sendiri dan dibantu seorang kawan untuk berbelanja bahan baku. Tahun lalu merupakan ramadan pertama yang dilalui kedai yang saya buat. Saya berpikir “apakah kedai masih bisa mengambil keuntungan ketika ramadan?”. Mengingat jam buka kedai dipersingkat.

Ketika sudah melaluinya, ternyata jawabannya adalah “bisa”. Di luar dugaan, keuntungan yang didapat kedai ternyata malah dua kali lipat dari keuntungan bulan biasa. Setelah dicermati ternyata pengunjung yang datang justru lebih banyak saat ramadan meskipun jam buka dipersingkat. Namun saat ramadan tahun ini, itu semua tak lagi terjadi.

Eh, tapi tulisan ini bukan untuk membahas tentang kerugian dan keuntungan. Tulisan ini adalah bentuk kangen saya terhadap aktivitas yang biasa kita lalui atau apapun yang bisa saya lakukan ketika Covid-19 belum mewabah. Salah satunya ngebar. Saya kangen “ngudek-ngudek” kopi meskipun saya belum fasih benar.

Meskipun masih satu bulan (perbandingannya adalah orang-orang di balik tembok penjara yang tidak bisa beraktivitas seperti biasa). Tapi rasanya aneh sekali tidak bertegur sapa dengan orang-orang baru atau orang-orang yang biasa berkunjung ke kedai. Lebih-lebih ketika di rumah satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengobrol dengan banyak orang adalah dengan bermedia sosial dan kini menjadi sangat membosankan.

Berikutnya adalah peringatan May Day tahun ini yang ditiadakan. Saya lebih menganggap “ditiadakan” daripada masih menganggap diperingati dengan cara yang berbeda (lewat jalur daring). Mohon maaf aja nih, turun ke jalan saja tidak didengar, apalagi lewat daring. Ngomong-ngomong soal May Day dan pemerintah yang bebal. Baru-baru ini pemerintah mengambil langkah mengesahkan UU Mineral dan Batubara di saat Covid-19 sedang mewabah.

Saya berpikir, apa pemerintah memang sengaja seperti ini?. Kamisan yang tidak bisa dilaksanakan, May Day yang dibatalkan. Berbagai demo yang ditiadakan mungkin memicu kelicikan DPR dan pemerintah untuk segera mengesahkan undang-undang yang “menguntungkan” ini. Eh, tapi ya sudahlah. Toh yang demo teriak-teriak pakai baju hitam juga tidak pernah satu suara dan sebagian dari mereka juga mengambil keuntungan dari sesamanya kan.

Yang paling membuat saya kangen dan setiap saya mengingatnya selalu membuat saya mengumpat untuk pandemi ini adalah tidak dapat duit. Loh, katanya tidak bahas keuntungan?. Iya, tapi saya kangen dapat duitnya. “Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang” seperti ada benarnya.

Saat seperti ini, saya kesulitan untuk membayar cicilan bank. Meskipun terdapat relaksasi, yah sebagai lelaki yang memiliki sikap saya harus membayarnya tepat waktu. Ketiadaan duit ini juga membuat saya absen untuk membeli buku-buku fiksi untuk menemani saat “suwung”. Sebenarnya masih ada buku yang belum saya baca, namun kebanyakan dari itu semua adalah buku non-fiksi seputar sejarah dan psikologi yang rasa-rasanya malah membuat semakin pusing bila dibaca saat seperti sekarang.

Pada akhirnya, ketika pandemi ini memaksa orang-orang untuk berpikir lebih kreatif lagi untuk dapat duit. Saya pun tergugah pula untuk melakukannya. Kedai tutup? no problem! saya masih bisa jualan lewat jalur daring. Berbekal sisa duit yang ada, saya membeli seperangkat alat untuk bungkus minuman dan mulai berjualan di media sosial.

Meskipun hasilnya juga tidak signifikan, ya disyukuri saja, masih untung jualan kopi masih laku di tengah kompetisi 300-an lebih kedai kopi di Malang yang bernasib sama. Selain jualan lewat jalur daring, saya juga mencari pekerjaan lepas buat nambah-nambah pemasukan. Hasilnya saya jadi dapat pengalaman baru menulis untuk SEO di salah satu toko online. Pada akhirnya pola-pola berpikir kreatif tersebut membuat aktivitas baru meskipun rasanya tidak akan pernah sama seperti sebelum pandemi ini terjadi.

Kalau semisal pandemi ini berakhir dan kita bisa hidup tanpa batasan lagi, apa kita bakal kangen dengan aktivitas selama pandemi ini ya?

Komentar

About Muhammad Nabiel

Check Also

panic buying

Manusia Panic Buying

Source: Google Images Kebrengsekan manusia makin terlihat pemerintah enggan hadir ketika adanya panic buying dilakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *