Home / Artikel / Apakah Work From Home (WFH) Layak Dilanjutkan?

Apakah Work From Home (WFH) Layak Dilanjutkan?

work from home
Source: Google Images

Mungkinkah setelah pandemi work from home menjadi normal yang baru di dunia kerja Indonesia?. Dalam waktu dekat saya rasa tidak, karena WFH terjadi karena keadaan yang ada memaksa itu terjadi.

Selama masa pandemi Covid-19, telah hampir tiga bulan para pekerja terpaksa menjalani kerja secara virtual. Biasa disebut dengan work from home (WFH). Segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan berubah.

Mulai dari cara menyelesaikan pekerjaan, berkomunikasi dengan rekan kerja, sampai evaluasi kinerja, semua dilakukan secara daring. Semula kita tiap pagi harus berangkat ke kantor untuk bekerja, menjadi cukup hanya dengan duduk di depan laptop.

Namun jika dilihat dari sudut pandang pekerja, WFH cukup memberi banyak kelonggaran. Seperti halnya karyawan terbebas dari gangguan lingkungan kerja. Dapat lebih dekat dengan keluarga. Tingkat stress cenderung turun serta membuat produktivitas meningkat.

Di lain pihak, WFH bagi perusahaan ataupun para manajer cenderung merugikan karena di antaranya, perusahaan sulit untuk mengontrol para karyawannya. Serta manajer harus memutar otak bagaimana caranya agar sektor-sektor pekerjaan yang tidak bisa dilakukan secara daring tetap bisa berjalan semestinya.

Juga yang tidak kalah penting adalah keamanan data perusahaan karena pekerjaan yang dilakukan secara daring rawan diretas. Kita tahu bahwa dewasa ini data dari salah satu perusahaan e-commerce besar di Indonesia yaitu Tokopedia diretas.

Mungkinkah setelah pandemi work from home menjadi normal yang baru di dunia kerja Indonesia?. Dalam waktu dekat saya rasa tidak, karena WFH terjadi karena keadaan yang ada memaksa itu terjadi. Besar kemungkinan setelah pandemi berakhir, kegiatan bekerjapun akan kembali normal seperti sebelum pandemi terjadi.

Karyawan yang selama WFH bisa berpakaian bebas saat melakukan pekerjaannya akan kembali mengenakan seragam kerja, karyawan akan kembali tiap pagi berangkat ke kantor, bertemu dan bekerja dengan sesama karyawan, lalu juga bertemu kembali dengan kemacetan dan hiruk pikuk jalanan lainnya.

Hal ini bisa menyebabkan para karyawan yang sebelumnya sudah terlanjur nyaman dengan cara kerja WFH, harus beradaptasi lagi dengan situasi dan lingkungan kerja. Sehingga karyawan tidak boleh terlalu terlena dengan fleksibilitas yang diperoleh selama WFH. Agar nanti tidak sulit apabila harus beradaptasi kembali. Jika memang perusahaan ingin menjadikan WFH menjadi sistem kerja baru bagi perusahaan mereka, para manajer tentunya perlu mempertimbangkan beberapa faktor berikut sebagai penyesuaian:

Menanamkan Budaya Organisasi yang Baru Pada Karyawan

Kita tahu bahwa budaya berfungsi sebagai proses integrasi serta pemersatu setiap komponen internal organisasi. Sehingga para karyawan perlu tahu bagaimana budya organisasi yang baru untuk mengikuti cara kerja perusahaan

Pola Komunikasi  Efektif dan Efisien

Ketika para karyawan tidak lagi perlu ke kantor, pola komunikasi perlu dipikirkan demi komunikasi berjalan efektif dan efisien. Sehingga tidak menimbulkan problem baru bagi perusahaan dan karyawan

Spesialisasi Pekerjaan

Setiap karyawan harus mengetahui tugas pokok dan fungsi, agar tidak menimbulkan pekerjaan yang tumpang tindih. Sehingga kerja menjadi tidak efisien. Karena itu, para karyawan harus memahami sejauh mana tugasnya di dalam organisasi.

Komentar

About Nafis Indra Prawira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *