Home / Artikel / Meritokrasi Mengabaikan Privilese?

Meritokrasi Mengabaikan Privilese?


Source: Google Images

Upaya meritokrasi dengan mengabaikan privilese seseorang akan berubah wujud menjadi toxic positivity.

Siang di hari Jumat, ada pesan masuk dari seorang teman. Pesan tersebut berisi tautan artikel membahas tentang tolak ukur kesuksesan masyarakat Indonesia yang hanya menggunakan kerja keras dan mengabaikan kelas sosialnya. Karena saya sedang bolos Jumatan dan suwung menunggu teman yang tak kunjung datang, saya membuka laptop dan mulai membacanya.

Tulisan dalam tautan tersebut membahas bahwa meritokrasi posisi dalam sebuah lembaga atau perusahaan merupakan fenomena berbahaya karena akan menimbulkan beban bagi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Di dalam pikiran, saya berpikir, meritokrasi iki jane opo to yo?

Saya membuka KBBI dan mencari arti kata tersebut dan hasilnya nihil. Apa ini istilah asing? saya masih mencari tahu dan ketemu pada laman Wikipedia. Kurang lebih pengertiannya adalah kesempatan yang diberikan kepada seseorang berdasarkan kemampuan atau prestasinya, bukan berdasarkan kekayaan atau latar belakang orang tersebut.

Lah terus apa bahayanya? Cari orang berkompeten dalam bidangnya kan baik. Lagipula dengan meritokrasi lembaga atau perusahaan bisa menekan penyakit nepotisme yang ada di dalamnya. Ternyata meritokrasi dengan mengabaikan privilese seseorang bisa jadi penyakit baru di dalam masyarakat kelas bawah. Mari kita bedah.

Pasca Orde baru pak Habibie meritokrasi posisi penting untuk membersihkan nepotisme yang terjadi di sekitar istana. Namun sayangnya keburu lengser. Sebagian orang yakin kalau meritokrasi ini memberikan kesempatan bagi orang-orang yang tidak memiliki privilese untuk menduduki posisi penting bagi lembaga atau perusahaan. Lebih jauh lagi meritokrasi dipercaya dapat mengentaskan masyarakat dari tembok si kaya dan si miskin.

Nah, ini mulai menarik. Bagaimana bisa orang berlatar belakang tidak memiliki kenalan dan dari keluarga tak punya bisa melesat jauh jadi orang sukses?. Oh tentu saja bisa, tapi ya enggak semuanya. Pada akhirnya, meritokrasi ini jadi candu yang membuat masyarakat di bawah garis kemiskinan terus berusaha lebih keras agar bisa mentas dari nasibnya sekarang.

Setiap orang kemudian percaya bahwa masing-masing kesempatan untuk berkompetisi secara sehat dengan mengesampingkan latar belakang keluarga, pendidikan dari kampus ternama, dan kekayaan. Menurut saya itu mustahil terjadi karena nepotisme sudah menjadi kultur di Indonesia.

Nepotisme ini ada karena privilese dari orang-orang. Privilese yang dilirik tentu saja yang sesuai dengan posisi yang dibutuhkan. Ya contohnya pak Nadiem yang alumni Harvard, anak dari Anwar Makarim, dan pernah menduduki posisi penting di Zalora Indonesia dan Gojek. Kita yang berlatar belakang biasa saja dan yakin punya kemampuan kayak pak Nadiem apa bisa dipilih?. Tentu saja bisa, tapi kemungkinannya ya kecil bos.

Upaya meritokrasi dengan mengabaikan privilese seseorang akan berubah wujud menjadi toxic positivity. “Kamu harus bekerja lebih keras agar bisa mendapatkan apa yang kamu mau”. “Kamu harus lebih berprestasi agar kamu bisa mendapat posisi yang kamu inginkan”. Enggak usah dibilangin, semua orang juga tahu itu kan?. Ambisi dan kerja keras tidak akan cukup. Relasi dan kekayaan juga menjadi faktor dalam mendapatkan sebuah posisi yang diinginkan.

Tapi kalian enggak usah sedih, kalau ngomongin soal privilese, setiap orang tentu punya privilese sendiri-sendiri kok. Cuman ya gitu, tinggal nyadar atau tidak. Pak Nadiem punya privilese untuk jadi menteri, tapi apa bisa ngopi, srawung tiap hari di warung kopi?. Tentu tidak. Kalau kita tentu masih bisa ngopi sama srawung ngomongin aib negara tiap hari, dan itu juga privilese.

Mau enggak mau peran privilese memang berpengaruh dalam kehidupan kita masing-masing. Dan peran tersebut sangat bertentangan dengan upaya meritrokasi. Sebagai contoh pas kamu lagi kena PHK perkara pandemi, lalu teman dekatmu menawarkan pekerjaan yang gajinya lumayan buat hidup sehari-hari, apa ya kamu tolak? enggak to?.

Kesimpulannya ya sawang sinawang. Terima saja nasib yang ada. Berjuang boleh saja, berkeinginan ya boleh saja, asal jangan ndakik-ndakik. Posisi penting dalam setiap perusahaan atau lembaga tentu mencari orang yang berkompeten. Tapi kalau bisa ya orang yang “dekat-dekat” saja, biar bisa diatur “gimana-gimana”nya. Bukan begitu?

Komentar

About Muhammad Nabiel

Check Also

Memahami Definisi Sosialita yang Sebenarnya

Seperti biasa, segala sesuatu yang sedang hype selalu jadi bahan pembicaraan yang pas saat minum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *